Jumat 23 Jul 2021 19:31 WIB

Pengusaha APD di Boyolali Kebanjiran Order

Salah satu pengusaha terpaksa menolak order karena melebihi kapasitas produksi.

Pengusaha APD di Boyolali Kebanjiran Order. Ilustrasi
Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA
Pengusaha APD di Boyolali Kebanjiran Order. Ilustrasi

IHRAM.CO.ID, BOYOLALI -- Pengusaha produksi alat pelindung diri (APD) baju hazmat di Boyolali, Jawa Tengah kebanjiran order. "Bahkan, APD baju hazmat menjadi barang wajib dalam penanganan pandemi Covid-19 ini. Permintaan meningkat hingga 50 persen dibanding bulan sebelumnya," kata pemilik Gracia Garment Banyudono, Yuli T.B, yang memproduksi baju hazmat, Jumat (23/7).

Menurut Yuli, pesanan baju hazmat produksinya meningkat sejak Juli ini. Ia memiliki kemampuan memproduksi sekitar 1.200 buah baju hazmat per hari dari tiga tempat produksi.

Baca Juga

Ia memiliki satu tempat produksi di Banyudono dan dua di Sambi dengan jumlah karyawan 60 orang. "Saya sering menolak pesanan karena menyesuaikan kemampuan produksi," katanya.

Order baju hazmat bulan ini mencapai 1.800 buah per hari atau naik sekitar 50 persen dibanding bulan sebelumnya. Baju hazmat dijual mulai Rp 35 ribu hingga Rp 55 ribu per buah.

 

Dia mengakui sudah kawalahan orderan dan menolak pesanan karena di luar kemampuan produksi. Selama ini, produksi baju hazmat miliknya disalurkan lewat distributor di daerah Solo dan sekitarnya, Semarang, Jakarta, serta Surabaya.

Dari distributor kemudian disalurkan ke rumah sakit atau relawan yang membutuhkan. Dia memproduksinya dua jenis baju hazmat.

Pertama, baju hazmat untuk area ring 1 atau bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19, seperti tenaga kesehatan (nakes) di RS dan relawan pemakaman. Baju tersebut hanya bisa digunakan satu kali dan bahannya impor.

Kedua, baju hazmat untuk area ring 2 bisa digunakan sampai dua kali. APD ini disebut hazmat suit microporous breathable yang bersifat anti-air, antivirus, antidroplet, antibakteri, antidebu, antistatik, tidak gerah, dan nyaman digunakan.

Produksi khusus untuk penanganan Covid-19 tertutama untuk suplai RS dan relawan. Dia menjelaskan proses pembuatan baju hazmat tersebut dimulai dari pengukuran dan pemotongan kain.

Bahan khusus itu kemudian diobras dan dijahit. Setelah itu, dilakukan proses shelling atau menutup rongga jahitan menggunakan selotip khusus guna meminimalisasi kebocoran baju hazmat saat dipakai.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Apakah internet dan teknologi digital membantu Kamu dalam menjalankan bisnis UMKM?

  • Ya, Sangat Membantu.
  • Ya, Cukup Membantu
  • Tidak
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement