Jumat 08 Oct 2021 14:24 WIB

Cara Tukang Cukur Afghanistan Dirikan Toko di Pangkalan AS

Fort McCoy berfungsi sebagai rumah sementara pengungsi menunggu proses imigrasi

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani
Dalam gambar ini disediakan oleh Angkatan Udara AS
Foto: Senior Airman Taylor Crul/U.S. Air Force via
Dalam gambar ini disediakan oleh Angkatan Udara AS

IHRAM.CO.ID, MONROE – Tukang cukur Afghanistan Mohammad tiba di Amerika dengan harapan dapat melanjutkan profesinya. Hanya dengan gunting rambut dan sedikit peralatan, dia harus menjadi sosok kreatif. Sebagai pengungsi, ia harus bertahan di Amerika untuk melanjutkan hidup.

Di pangkalan militer Fort McCoy, Wisconsin, Mohammad memanfaatkan segala cara. Bersama dengan ribuan pengungsi Afghanistan lain, ia tengah menunggu kasus imigrasi yang diproses. Tempat tidur kamp diubah menjadi kursi untuk pelanggan. Botol semprot daur ulang digunakan untuk membasahi rambut klien dan tas palang merah yang dulunya berisi selimut diubah menjadi jubah pemotong rambut.

Sekarang Mohammad mengoperasikan tempat pangkas rambut darurat di halaman berumput di luar barak militer di Fort McCoy. “Awalnya saya tidak punya apa-apa. Saya mencari di mana-mana untuk peralatan yang bisa digunakan. Saya membeli sisir dari toko di pangkalan dan mulai membuka jasa pelayanan cukur rambut,” kata Mohammad dengan nama samaran.

Saat baru tiba di Amerika, ia memiliki banyak waktu luang. Oleh karena itu, ia sangat ingin menggunakan keterampilan memotong rambutnya. Fasilitas militer yang luas dihiasi dengan barak dua lantai beratap merah, menampung beberapa keluarga Afghanistan. Ruang antar bangunan sering diisi oleh anak-anak yang berlarian dan bermain.

Fort McCoy berfungsi sebagai rumah sementara bagi hampir 13 ribu warga Afghanistan yang menunggu proses imigrasi setelah ribuan orang melarikan diri dari Afghanistan menyusul pengambilalihan negara ioleh Taliban. Toko Mohammad terletak di halaman rumput di luar barak militer di mana ia mulai beroperasi pada siang hari. Dengan janggut runcing, terawat baik, dan rambut disisir ke belakang diikat menjadi simpul kecil di atas kepalanya, Mohammad mengatakan dia ingin mengubah usaha awalnya menjadi bisnis ketika dia meninggalkan pangkalan.

Namun, untuk saat ini, dia menagih 10 dolar Amerika untuk potong rambut dan lima dolar Amerika untuk mencukur wajah. Mohammad melihat peluang bisnis dengan ribuan pria Afghanistan tinggal di pangkalan tanpa tempat untuk memotong rambut atau bercukur.

“Saya ingin memiliki tempat yang layak dan membuka tempat pangkas rambut setelah saya dimukimkan kembali di negara bagian,” ujar dia.

Dilansir Aljazirah, Jumat (8/10), Mohammad berasal dari provinsi Ghazni tenggara Afghanistan, tetapi dia telah tinggal di ibu kota Kabul sebelum meninggalkan Afghanistan. Dia dan keluarganya melarikan diri selama misi evakuasi pimpinan AS yang kacau setelah Taliban merebut Kabul. Saudara perempuannya, seorang warga negara Amerika sedang mengunjungi Afghanistan dan berhasil membawa beberapa anggota keluarga dekatnya dalam penerbangan evakuasi.

Taliban memasuki Kabul pada pertengahan Agustus setelah pemerintah Afghanistan runtuh di tengah penarikan pasukan Amerika. Militer Amerika tetap mengendalikan bandara selama hampir dua pekan setelah pengambilalihan Taliban. Pasukan Amerika mengevakuasi lebih dari 100 ribu orang, termasuk warga negara Amerika, warga negara ketiga, dan sekutu Afghanistan.

Para pejabat Amerika mengatakan negara itu berencana untuk menerima 50 ribu warga Afghanistan yang sebagian besar diberikan pembebasan bersyarat kemanusiaan, sebuah program yang memungkinkan masuk ke Amerika sementara visa permanen para pengungsi sedang diproses.

“Semua orang mencoba melarikan diri. Mereka akan mencoba setiap pilihan yang mereka bisa untuk meninggalkan Kabul,” ucap dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement