Senin 05 Aug 2019 19:13 WIB

Jamaah Haji Simak Uraian tentang Tasawuf

Jamaah haji diingatkan agar berhati-hati terhadap pelbagai penyakit hati

Rep: Muhammad Hafil/ Red: Hasanul Rizqa
Anggota Amirul Hajj Indonesia, Ali Machfuddon Abdillah sedang menyampaikan materi tentang tasawuf kepada jamaah haji Indonesia yang tinggal di Hotel 509, Mahbas Jin, Makkah, Senin (5/8).
Foto: Muhammad Hafil / Republika
Anggota Amirul Hajj Indonesia, Ali Machfuddon Abdillah sedang menyampaikan materi tentang tasawuf kepada jamaah haji Indonesia yang tinggal di Hotel 509, Mahbas Jin, Makkah, Senin (5/8).

IHRAM.CO.ID, MAKKAH -- Tim Amirul Hajj Indonesia melakukan kunjungan ke sejumlah pemondokan yang dihuni jamaah haji Indonesia. Di pelbagai kesempatan, tim tersebut memberikan motivasi dan bimbingan ibadah haji kepada jamaah.

Tidak hanya bimbingan ibadah secara fikih, tetapi juga bimbingan hati. Seperti yang dilakukan salah seorang anggota Amirul Hajj, Ali Machfudon Abdillah di Hotel 509, kawasan Mahbas Jin, Makkah, Senin (5/8). Hotel tersebut dihuni oleh jamaah asal Embarkasi Lombok (NTB).

Baca Juga

Ali Machfudon menyampaikan tausiyah kepada ratusan orang jamaah di ruang mushalla Hotel. Dalam kesempatan itu, dia memberikan materi tasawuf.

“Ibadah haji ini bukan hanya soal fikih kalau soal fikih sudah ada dalam buku-buku manasik, tetapi aspek tasawuf yang meliputi sabar, ridha, ikhlas, hingga qonaah,” kata Ali di hadapan jamaah.

Ali menjelaskan, ada sejumlah penyakit hati yang bisa menyebabkan hajinya seseorang tidak mabrur. Penyakit hati itu cenderung menghampiri tiap hati seseorang. Ini mesti dipahami jamaah haji. Di antara penyakti hati itu adalah riya, ujub, takabur, hasut, dan gibah.

“Di Tanah Haram ini kita jaga perkataan kita, dan senantiasa memperbanyak amal-amal ibadah supaya kita sampai pada kualitas ibadah mabrur.  Sebab mabrur itu anugerah dari Allah , tapi proses menjadi mabrur secara keilmuwan harus dipelajari dan dibekali kepada jamaah,” kata Ali.

Menurut Ali, pembekalan tasawuf ini agar jamaah bisa menyikapi dengan bijak jika ada pelayanan dari penyelenggara haji baik dari Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Arab Saudi tak sesuai.  Misalnya, soal layanan bus pengangkut yang saat puncak haji akan semakin berkurang. 

“Insya Allah kalau nurut aturan panitia Insya Allah  proses haji lancar dan penyakit hati bisa dikendalikan. Maka harapan kita pembekalan aspek tasawuf ini mudah-an jamaah haji kita jadi mabrur,” kata Ali.

Selain itu, Ali mengingatkan agar ibadah haji itu harus dilakukan karena Allah. Bukan karena riya apalagi untuk kesombongan. “Kita harus mengingakan soal ini terus kepada jamaah,” kata Ali.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement