Jumat 02 Oct 2015 11:11 WIB
Insiden Mina

Wajah Anak Membuat Ira Kuat Berada di Tengah Jenazah Korban Mina

Rep: Ratna Puspita/ Red: Indah Wulandari
Petugas medis merawat korban insiden Mina yang terluka akibat berdesakan saat hendak melempar jumrah, Kamis (.4/9)/
Foto: Reuters
Petugas medis merawat korban insiden Mina yang terluka akibat berdesakan saat hendak melempar jumrah, Kamis (.4/9)/

REPUBLIKA.CO.ID,MAKKAH -- Beberapa jamaah sedang duduk di depan kamar di Pemondokan 405, Syisyah, Makkah, Rabu (30/9). Mereka menyapa saya dan empat teman wartawan yang juga tergabung di Media Center Haji (MCH) 2015.

Kami baru saja selesai mewawancarai dua jamaah korban peristiwa di Jalan 204, Mina, Arab Saudi. Dua jamaah itu laki-laki. Lalu, Ketua Kelompok terbang (Kloter) JKS 61 Embarkasi  Aceng Sukendar ‎bertanya apakah kami mau mengobrol dengan seorang ibu yang kehilangan suaminya dalam peristiwa tersebut.

Saya sempat ragu. Saya khawatir wawancara justru akan mengganggu masa ‎berkabungnya. Tapi, Aceng dan beberapa jamaah lain meyakinkan bahwa Ira Sukamiharja (53 tahun) sudah melewati dan bangkit dari kedukaan setelah suaminya yang juga dosen Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung, Mohammad Yuhan Suprianto (57 tahun) yang dipastikan meninggal dunia karena peristiwa di Jalan 204.

Saya meyakinkan diri masuk ke kamar yang ditunjuk Aceng. Dalam kamar, ada tiga perempuan. Seorang sibuk menggoreng bala-bala alias bakwan. Seorang lainnya merapikan ruangan. Seorang lagi duduk di antara dua tempat tidur. Perempuan terakhir inilah yang bernama Ira.

Saya menyalaminya sembari mengucapkan turut berduka. Dia menyambut sambil tersenyum dan menyatakan bahwa dia sudah baik-baik saja.

"Cuma memang capek banget karena harus bolak-balik ke pemulasaraan jenazah, urus ini-itu. Saya udah nolak karena capek, tapi katanya harus saya," kata Ira yang mengajar di sebuah sekolah di Cimahi.

Ira membuka obrolan mengenai perjalanan menuju Jamarat. Ketidakyakinanannya berangkat pada pagi hari, apalagi ketika askar memaksa dia dan rombongannya berbelok ke Jalan 204. "Saya menyesal juga kalau ingat itu. Tapi, sudah takdir, ya," kata dia.

Ira mengingat jelas Jalan 204 sudah sangat padat ketika dia diarahkan masuk ke akses itu. Lalu, ada rombongan masuk dari arah Jamarat. Belum lagi, keributan antara rombongan jamaah berkulit hitam.

Dia masih bisa jalan sembari mendorong kursi roda seorang jamaah laki-laki. Kian lama kepadatan kian tidak terkendali. Kursi roda terjatuh. Tidak lama, dia melihat suaminya terjatuh. "Bapak jatuh kayak pingsan," kata Ira.

Lalu, dia terhimpit dan terjatuh. Tubuh Ira tertimpa tubuh-tubuh lain. Dia tenggelam dalam tumpukan orang-orang yang entah pingsan atau sudah tidak bernyawa. Kala itu, dia mengingat suaminya yang mungkin sudah menghembuskan nafas terakhir.

Ira ingat ada empat anak yang masih membutuhkannya. Terbayang wajah anak-anaknya, ia pun berusaha bergerak, namun kakinya tertimpa tubuh-tubuh lain.

Dia pun berdoa kepada Allah agar dia diselamatkan. "Saat itu, hanya Allah yang bisa menolong saya. Saya meyakini bahwa dia akan menolong saya. Saya terus berdoa," ujar Ira.

Setelah khusyuk berdoa, Ira seperti punya energi untuk melepaskan kakinya dari tumpukan tubuh yang sudah tidak bernyawa. Namun, tumpukan tubuh itu mungkin sudah mencapai batas pinggangnya.

Dia pun merangkak di atas tubuh-tubuh yang bergeletakan di jalan. Lalu, seorang pria Arab berjenggot menolongnya dengan memberikan air dan menyiram kepalanya. "Pakaian saya masih utuh waktu itu, tas juga masih ada. Cuma sepatu saja yang hilang," ujar Ira.

Ira terus merangkak sampai tiba di jejeran tenda jamaah dari Afrika. Pria yang sama kembali memberinya air. "Saya juga makan kurma, saya bagi ke dia juga," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement