Ahad 14 Jul 2019 07:41 WIB

Ada Hikmah di Balik Cuaca Panas Musim Haji

Cuaca panas berkisar di angka 38-42 derajat celcius.

Jamaah calon haji yang akan melaksanakan miqai di Masjid Bir Ali
Foto: Republika TV/Syahruddin El-Fikri
Jamaah calon haji yang akan melaksanakan miqai di Masjid Bir Ali

IHRAM.CO.ID,

Laporan Muhammad Hafil dari Tanah Suci

Sejak beberapa pekan menjelang pemberangkatan kloter pertama jamaah calon haji pada 6 Juli, kita dikabarkan bahwa cuaca di Kota Makkah dan Madinah sedang panas. Bahkan, pada 23 Juni mencapai 50 derajat celcius.

Sementara, sejak kedatangan kloter pertama itu, cuaca panas berkisar di angka 38-42 derajat celcius. Saya yang bertugas di Makkah pun ikut merasakan cuaca panas ini.

Seperti apa rasanya? Saya melakukan percobaan mencuci kain ihram melalui mesin cuci pada pukul 08.40 WAS di pemondokan. Kemudian kain itu saya peras.

Pukul 08.55, saya menjemur kain ihram itu di lantai 5 pemondokan. Suhu udara saat itu di angka 38 derajat celcius. Setelah menjemur, saya tinggal selama 30 menit. Setelah kembali, ternyata kain ihram saya sudah kering 100 persen.

Waktu yang dibutuhkan menurut saya sangat cepat. Sangat berbeda ketika saya menjemur pakaian di Tanah Air, walau sudah dikeringkan pakai mesin pengering, tetapi biasanya keringnya menunggu hingga lima jam.

Dan saya rasa, proses pengeringan ini bisa lebih cepat jika saya melakukannya di atas pukul 12.00 WAS. Karena, cuaca mencapai 42 derajat celcius.

Yang saya rasakan lagi tentang cuaca panas ini adalah, ketika saya keluar dari hotel atau dari ruang dalam Masjidil Haram yang difasilitasi kipas dan mesin pendingin, terik matahari sangat menyengat hingga ke kulit dan membuat mata selalu silau. Jika subuh atau malam hari, cuaca di luar tempat itu juga terasa pengap. Serasa berada di lantai basement yang biasanya dijadikan tempat parkir di gedung-gedung di Jakarta. Padahal, kita tengah berada di ruang terbuka.

Namun, kita tidak perlu terlalu khawatir akan kondisi cuaca ini. Tetap ikuti anjuran pemerintah agar kita selama berada di Tanah Suci selalu mengantisipasi cuaca panas ini.

Di antaranya, selalu banyak minum air agar tubuh tidak terdehidrasi. Karena, di sini kita akan sering kehausan. Kemudian, selalu menggunakan alat pelindung diri seperti kaca mata, masker, topi, alas kaki, hingga krim pelembab dan pelindung kulit jika ingin keluar hotel atau keluar Masjidil Haram.

Soal alas kaki ini juga harus menjadi perhatian. Karena, banyak kasus jamaah haji yang kehilangan sandal di Masjidil Haram ataupun di Masjid Nabawi. Sehingga, mereka nekad keluar masjid menuju pemondokan tanpa menggunakan alas kaki. Akibatnya, telapak kakinya melepuh dan berdampak pada rangkaian kegiatan ibadah haji berikutnya.

Padahal soal masalah ini, jamaah haji bisa mendatangi pos-pos petugas yang ada di Sektor Khusus Masjidil Haram ataupun Masjid Nabawi. Di sini, petugas sudah menyiapkan sandal-sandal pengganti untuk jamaah haji yang kehilangan sandal.

Dan, jangan terlalu lama berada di bawah terik matahari. Dan, selalu berdoa agar kita selalu diberi kesehatan oleh Allah.

Karena, di balik perjalanan haji kita ini meskipun cuaca panas tetap mengandung hikmah. Maulana Muhammad Zakaria dalam kitab Fadhilah Haji menyebutkan, dalam sebuah hadist disebutkan "Tunaikanlah haji, niscaya engkau jadi kaya dan bersafarlah (Lakukan perjalanan), niscaya engkau akan sehat."

Ulama hadist dari Khandahlawi, India, ini menerangkan maksud perkataan nabi tersebut bahwa dengan melalukan perjalanan maka kita akan mengalami pertukaan tempat, udara, dan cuaca. Sehingga, hal ini akan menambah baik kesehatan kita.

Dan hikmah lainnya, kita bisa mengeringkan pakaian yang kita cuci dengan sangat cepat. Hanya dibutuhkan waktu sekitar setengah jam hingga satu jam jika kita menjempur pakaian. hehehe

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement