Sabtu 25 Apr 2020 15:06 WIB

Ketika Rasulullah Berada di Persimpangan Rasa Takut

Kita seringkali percaya Allah sepenuh hati, tetapi meninggalkan logika tawakal.

Rasulullah SAW (ilustrasi)
Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Rasulullah SAW (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Fuady, Faculty of  Medicine, Universitas Indonesia

Apakah ketakutan kita akan serangan, kekalahan, kesakitan, dan kecelakaan harus serta merta dipertentangkan dengan ketundukan dan kepasrahan kita kepada Allah? Apakah ketaatan yang kita sempurnakan selalu berbanding terbalik dengan kewaspadaan dan kekhawatiran?

Selepas perang Uhud, Rasulullah ﷺ berupaya keras mengerek kembali semangat kaum Muslimin yang terberai. Satu per satu ekspedisi dijalankan, hingga setahun berikutnya mereka bertemu dengan janji Abu Sufyan di penghujung perang Uhud, “Satu tahun lagi di Badar!”

Tapi, Abu Sufyan lebih dahulu kalah oleh musim panas dan kekeringan yang melanda sehingga ia memutuskan memutarbalik pasukannya kembali ke Mekkah. Perang Badar jilid II yang semula diniatkannya sebagai balas dendam dengan keyakinan penuh selepas perang Uhud, dibatalkannya sendiri.

Rasulullah ﷺ pulang tanpa keringat di medan laga. Tapi, tidak demikian di Madinah yang masih belum stabil.

Di tengah semangat kaum Muslimin yang mulai menanjak, ancaman serangan muncul lagi dari suku Ghatafan sehingga Rasulullah ﷺ memutuskan memboyong sepasukan kaum Muslimin menuju Dzatur Riqa tanpa ingin melakukan konfrontasi langsung. Kedua kelompok ini saling terkejut ketika satu sama lain berjumpa, meski kemudian kaum Muslimin berhasil membuat sekelompok orang dari suku Ghatafan lari tunggang langgang.

Kisah itu tak berhenti begitu saja. Ghatafan tak sepenuhnya lari. Serangan masih mungkin saja dilancarkan. Tengah malam, dini hari, siang terik, atau menjelang senja.

Posisi kedua kelompok ini sudah terdeteksi masing-masing. Rasulullah ﷺ tengah bersiap menunaikan Shalat Zhuhur di Asfan, sedangkan Khalid bin Walid yang saat itu belum masuk Islam tengah bersiaga dengan pasukannya di arah kiblat Rasulullah ﷺ.

Khalid dan pasukannya hanya tinggal menunggu saat-saat lengah musuhnya. “Shalat,” kata salah satu dari gerombolan itu. “Akan tiba waktu shalat yang mereka lebih sukai ketimbang anak-anak mereka sendiri,” (1) katanya memulai kesepakatan penyerangan.

Bagi mereka, waktu shalat kaum Musliminlah periode emas melakukan penyerangan. Ketika mereka ruku’, tak ada yang mengawasi. Ketika mereka bersujud, tak ada yang dapat menghindar dari serangan yang tiba-tiba.

Rasulullah ﷺ bukan tak gentar. Ia bukan tak mengerti psikologi pasukannya yang belum lama dilanda kekalahan besar di Uhud. Rasulullah ﷺ tidak hadir di tengah pasukannya dengan teriakan membahana untuk meminta semua pasukannya tetap shalat berjamaah seperti sedia kala.

Rasulullah ﷺ tidak lantas menjanjikan kemenangan atas musuh fisikal mereka dengan strategi di luar nalar seolah keajaiban datang memancar dari tempat sujud mereka, membuat perisai tak kasat mata dan menembakkan panah otomatis dari entah arah mana yang mereka tak pernah sangka.

Allah memang menghadirkan kekuatan supranatural di Badar (2). Jika pasukan Muslim melempar panah, bukan mereka yang sesungguhnya melempar, walakinnallaha ramaa (3). Allah-lah yang melempar.

Jika mereka melepas pedang ke arah musuh, kulit lawannya telah tertebas sebelum pedang sampai ke permukaan kulitnya. Kepalanya telah mengucurkan darah sebelum benda apa pun mendarat di kepalanya.

Tetapi, tidak ada yang datang dalam ketiba-tibaan, dalam kelenggangan, dalam ketidakwaspadaan. Allah seperti tengah menguatkan apa yang diinginkan-Nya: berupayalah dahulu dalam logika manusiamu, dalam perbendaharaan strategimu, dalam taktik pencegahanmu, dalam model pengobatanmu, dalam kampanye politikmu, dalam musyawarah keputusanmu, dalam panduan-panduan ilmu.

Setelah lengkap, tuntas, komplit, dan sempurna semua niat dan usahamu, Allah akan hadir memberikan firasat fatsabbitu lladziina aamanuu. Tegaklah, kokohlah orang-orang yang mempercayai-Ku di belakang mereka.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement