Selasa 28 Apr 2020 14:53 WIB

Kuartal I 2020, Penjualan Freeport Indonesia Turun 21 Persen

Produksi tambang bawah tanah Freeport Indonesia pada kuartal I 2020 melebihi target.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
Ladang tambang terbuka yang dikelola PT Freeport Indonesia di Grasberg, Tembagapura, Timika, Papua.
Foto: Antara
Ladang tambang terbuka yang dikelola PT Freeport Indonesia di Grasberg, Tembagapura, Timika, Papua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kuartal pertama tahun ini PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatatkan penurunan penjualan sebesar 21 persen. Tercatat, perusahaan menjual temabga sebanyak 127 juta pon dan emas 139 ribu ounces.

President and Chief Executive Officer Freeport McMoRan, Richard Adkerson dalam paparannya menjelaskan capaian kuartal pertama ini merosot jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk emas tahun lalu PTFI mampu menjual sebesar 235 ribu ounces dan tembaga sebesar 174 juta pon.

Baca Juga

Meski mengalami penurunan penjualan, namun Adkerson menjelaskan produksi bijih dari tambang bawah tanah di Papua sepanjang kuartal I 2020 melebihi target yang dicanangkan. Bahkan produksi dalam skala besar dari blok tersebut menghasilkan kualitas bijih tinggi dengan biaya yang rendah.

Pada kuartal I, produksi bijih dari Grasberg Block Cave dan Deep Mill Level Zone telah mencapai rata-rata 37 ribu ton per hari.

“Sedikit melebihi perkiraan kami di awal tahun dan 44% lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada akhir kuartal pertama, kami telah mampu memproduksi bijih hingga 40 ribu metrik ton per hari dan akan terus meningkat,” kata Adkerson dalam paparannya, Selasa (28/4).

Mulai 2020, Freeport Indonesia telah mengalihkan seluruh kegiatan produksinya ke tambang bawah tanah. Setelah cadangan tembaga dan emas tambang terbuka terkuras habis.

Peningkatan penjualan emas dan tembaga Freeport sejalan dengan penyelesaian tambang bawah tanah Grasberg Block Cave dan Deep Mill Level Zone. Penjualan emas dan tembaga diproyeksikan baru mulai naik signifikan pada tahun depan, yakni tembaga 1,4 miliar pon dan emas 1,4 juta ounces.

Selanjutnya penjualan mulai mencapai puncak tertinggi pada 2023 yaitu tembaga 1,7 miliar pon dan emas 1,8 juta ounces.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement