Jumat 18 Dec 2020 10:46 WIB

Presiden Azerbaijan: Armenia Hina Perasaan Semua Muslim

Presiden Azerbaijan menyebut Armenia lukai perasaan umat Islam

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nashih Nashrullah
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev  menyebut Armenia lukai perasaan umat Islam
Foto: AP/Azerbaijan's Presidential Press
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menyebut Armenia lukai perasaan umat Islam

REPUBLIKA.CO.ID, YEREVAN – Armenia menghina perasaan tidak hanya orang Azerbaijan, akan tetapi semua umat Muslim di dunia. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Republik Azerbaijan, Ilham Aliyev, saat menerima mandat dari Duta Besar Afghanistan Amanullah Jayhoon yang baru diangkat.

"Semua kota dan desa kami hancur, semua monumen sejarah kami hancur, monumen budaya kami telah dihancurkan sepenuhnya, masjid kami telah dihancurkan atau mereka menggunakannya sebagai tempat untuk memelihara hewan, dengan demikian, menghina perasaan tidak hanya orang Azerbaijan tetapi semua Muslim di dunia," kata Aliyev dilansir dari laman Trend, pada Jumat (18/12). 

Baca Juga

Aliyev mengungkapan, semua Muslim di dunia yang melihat foto-foto dan video-video itu, akan memahami betapa jahatnya kejadian yang mereka hadapi selama bertahun-tahun. Di samping itu juga orang-orang juga dapat melihat pencapaian yang telah mereka buat untuk membebaskan wilayahnya, membebaskan tanah, dan kembali ke akar mereka.  

"Armenia, seperti yang Anda ketahui, sedang berupaya untuk memperkuat atau dalam beberapa kasus menciptakan hubungan dengan negara-negara Muslim. Tetapi saya yakin bahwa semua Muslim di dunia yang melihat gambar-gambar video itu akan mengirimkan pesan yang sangat kuat kepada pemerintah mereka untuk menahan diri dari kontak apapun dengan negara yang menghancurkan masjid, yang memelihara babi di masjid, dan yang menumbuhkan Islamofobia," paparnya. 

"Mungkin ada kepentingan politik, mungkin ada beberapa atau kepentingannya tapi saya pikir semua Muslim di dunia harus menyatukan suara mereka dan menyampaikan pesan yang kuat kepada penyerang bahwa apa yang telah mereka lakukan tidak dapat diterima dan tidak akan dilupakan Muslim," lanjut dia.

Hubungan antara bekas republik Soviet Azerbaijan dan Armenia tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh, juga dikenal sebagai Karabakh Atas, sebuah wilayah yang diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, dan tujuh wilayah yang berdekatan.

Bentrokan baru meletus 27 September dan tentara Armenia terus menyerang warga sipil dan pasukan Azerbaijan, bahkan melanggar perjanjian gencatan senjata kemanusiaan selama 44 hari. Baku membebaskan beberapa kota dan hampir 300 permukiman dan desa dari pendudukan Armenia selama ini.

Pada 10 November, kedua negara menandatangani perjanjian yang ditengahi Rusia untuk mengakhiri pertempuran dan bekerja menuju resolusi yang komprehensif. Gencatan senjata dipandang sebagai kemenangan Azerbaijan dan kekalahan Armenia.

Di samping itu, Penduduk Aghdam, yang diduduki Armenia selama 27 tahun, mengatakan bahwa kota itu menjadi hancur selama pendudukan. Di Aghdam, tempat tentara Armenia mundur pada 20 November, hampir tidak ada bangunan yang berdiri utuh. Sekitar 143 ribu orang Azerbaijan pernah tinggal di kota itu, tetapi sekarang kota itu hanya hanya tinggal jalan-jalan tidak terawat dan bangunan hancur. 

Masjid dua menara yang dibangun pada abad ke-19 merupakan satu-satunya bangunan yang struktur utamanya masih utuh. Namun kondisinya sangat memprihatinkan dan terabaikan. Penghancuran oleh Armenia di Aghdam selama pendudukan digambarkan pers asing sebagai "Hiroshima di Kaukasia".

Sumber:  https://en.trend.az/azerbaijan/politics/3351610.html

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement