Ahad 25 Apr 2021 05:58 WIB

Yerusalem Semakin Tegang dengan Bentrokan

Bentrokan semakin tegang di Yerusalem.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Muhammad Hafil
Petugas polisi anti huru hara Israel meminta seorang wanita berpakaian badut untuk meninggalkan daerah itu selama bentrokan di Gerbang Damaskus di luar Kota Tua Yerusalem, Kamis, 22 April 2021.
Foto: AP/Ariel Schalit
Petugas polisi anti huru hara Israel meminta seorang wanita berpakaian badut untuk meninggalkan daerah itu selama bentrokan di Gerbang Damaskus di luar Kota Tua Yerusalem, Kamis, 22 April 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, JERUSALEM -- Polisi Israel mengatakan 44 orang ditangkap dan 20 petugas terluka dalam malam kekacauan di Yerusalem. Pasukan keamanan secara terpisah bentrok dengan warga Palestina yang marah tentang larangan Ramadhan dan ekstremis Yahudi yang mengadakan pawai anti-Arab di dekatnya.

Ketegangan meningkat dalam beberapa hari terakhir di Yerusalem. Warga bersiap untuk melakukan protes lebih lanjut ketika polisi meningkatkan keamanan dan ada kekhawatiran bahwa kekerasan dapat kembali terjadi setelah salat Jumat di sebuah situs suci utama di Yerusalem.

Baca Juga

Tapi, ribuan jamaah bubar dengan damai setelah para pemimpin agama Muslim menyerukan menahan diri. Mufti Agung Yerusalem, Sheikh Muhammad Hussein, mengutuk serangan polisi dan pemukim terhadap orang-orang Palestina di Yerusalem dalam khotbah Jumatnya. Namun dia meminta para jemaah untuk tetap tenang dan tidak memberikan alasan kepada pihak lain untuk menyerbu kompleks tersebut.

Sementara itu, Hamas menggelar demonstrasi di seluruh Gaza menegaskan kembali dukungannya untuk perjuangan bersenjata. Baru pada Jumat (23/4) malam, puluhan warga Palestina berbaris menuju pintu masuk ke Kota Tua Yerusalem dan bentrok dengan polisi Israel. Petugas keamanan Israel mengatakan para pengunjuk rasa telah melemparkan batu dan barang-barang lainnya ke arah petugas. Sebanyak enam orang Palestina terluka dengan dua orang dirawat di rumah sakit.

Warga Palestina telah bentrok dengan polisi Israel setiap malam sejak awal bulan suci Ramadhan. Ketegangan dimulai ketika polisi menempatkan barikade di luar Gerbang Damaskus Kota Tua, tempat Muslim secara tradisional berkumpul untuk menikmati malam setelah puasa siang hari.

Sebagai pembalasan atas insiden di Yerusalem, milisi Palestina di Jalur Gaza menembakkan setidaknya 10 roket ke Israel pada Jumat (23/4) malam dan Sabtu (23/4) pagi. Beberapa rudal dicegat oleh pertahanan udara Israel dan yang lainnya jatuh di dekat perbatasan Gaza.

Front Palestina untuk Pembebasan Palestina mengaku bertanggung jawab atas beberapa tembakan roket. Sayap bersenjata Hamas memperingatkan Israel untuk tidak menguji kesabarannya.

Berbicara kepada para pengunjuk rasa, pemimpin senior Hamas, Mahmoud Zahar, mengutuk keputusan beberapa negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan Israel tahun lalu. Dia mengecam Otoritas Palestina di Tepi Barat yang diduduki karena melanjutkan koordinasi keamanannya dengan Israel.

"Setelah serangkaian protes dan demonstrasi yang panjang, kami telah mencapai kesimpulan bahwa tanpa senjata, kami tidak dapat membebaskan tanah kami, melindungi tempat-tempat suci kami, membawa kembali orang-orang kami ke tanah mereka atau menjaga martabat kami,” kata Zahar.

Kedutaan Besar Amerika Serikat mengatakan pihaknya sangat prihatin tentang kekerasan dalam beberapa hari terakhir. "Kami berharap semua suara yang bertanggung jawab akan mendorong diakhirinya hasutan, kembali ke ketenangan, dan menghormati keselamatan dan martabat semua orang di Yerusalem," katanya dalam sebuah pernyataan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement