Jumat 08 Oct 2021 03:00 WIB

Azerbaijan Tekankan Niat Jalin Hubungan dengan Armenia

Aliyev memandang pembebasan Karabakh bisa mendorong stabilitas.

Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev
Foto: AP/Azerbaijan's Presidential Press
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev

REPUBLIKA.CO.ID,  BAKU -- Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev pada Rabu menegaskan kembali kesediaan negaranya untuk menjalin hubungan dengan negara tetangga Armenia. Hal itu ia sampaikan saat menerima surat kepercayaan dari kepala delegasi Uni Eropa yang baru untuk Azerbaijan, Peter Michalko.

“Kami ingin menjalin hubungan dengan tetangga kami, Armenia, dan kami siap untuk memulai negosiasi perjanjian damai, delimitasi, dan komunikasi terbuka,” ujar Aliyev.

Baca Juga

"Proses ini sebagian telah dimulai, tetapi saya percaya Uni Eropa akan terlibat penuh dalam proses ini dan saya merasakan kesediaan seperti itu, upaya itu akan dapat membantu kami di banyak bidang," kata presiden seperti dikutip oleh kantor berita Azerbaijan, Azertac.

Sumber,  https://www.aa.com.tr/id/dunia/azerbaijan-tekankan-niatnya-jalin-hubungan-bertetangga-dengan-armenia/2385004

Aliyev menekankan bahwa Uni Eropa dapat berkontribusi pada pembangunan, stabilitas permanen, dan kerja sama di kawasan. Menurutnya pembebasan Karabakh Atas pada 2020 oleh Azerbaijan dapat mengarah pada stabilitas, dan perdamaian di kawasan itu.

Pembebasan Karabakh

Hubungan antara bekas republik Soviet Azerbaijan dan Armenia tegang sejak 1991 ketika militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh, juga dikenal sebagai Karabakh Atas, sebuah wilayah yang diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan, dan tujuh wilayah yang berdekatan lainnya.

Ketika bentrokan baru meletus pada 27 September tahun lalu, tentara Armenia melancarkan serangan terhadap warga sipil dan pasukan Azerbaijan dan melanggar beberapa perjanjian gencatan senjata kemanusiaan.

Selama konflik 44 hari, Azerbaijan berhasil membebaskan beberapa kota dan hampir 300 pemukiman dan desa dari pendudukan hampir tiga dekade.

Pada 10 November 2020, kedua negara menandatangani perjanjian yang ditengahi Rusia untuk mengakhiri pertempuran dan bekerja menuju resolusi yang komprehensif.

Pada 11 Januari, para pemimpin Rusia, Azerbaijan, dan Armenia menandatangani pakta untuk mengembangkan hubungan ekonomi dan infrastruktur. Perjanjian ini termasuk pembentukan kelompok kerja trilateral di Karabakh.

Gencatan senjata dipandang sebagai kemenangan bagi Azerbaijan dan kekalahan bagi Armenia, yang pasukannya ditarik sesuai dengan kesepakatan.

Sebelum kemenangan ini, sekitar 20 persen wilayah Azerbaijan berada di bawah pendudukan ilegal Armenia selama hampir 30 tahun.

sumber : Anadolu
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement