Selasa 12 Oct 2021 14:46 WIB

Sekjen PBB Serukan Dunia Beri Bantuan Dana ke Afghanistan

Afghanistan dinilai sedang menghadapi momen kehancuran

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih
Pedagang kaki lima Afghanistan menunggu pelanggan di Kota Tua Kabul, Afghanistan, Selasa, 28 September 2021. Afghanistan dinilai sedang menghadapi momen kehancuran.
Foto: AP/Bernat Armangue
Pedagang kaki lima Afghanistan menunggu pelanggan di Kota Tua Kabul, Afghanistan, Selasa, 28 September 2021. Afghanistan dinilai sedang menghadapi momen kehancuran.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres menyerukan dunia internasional untuk memberi bantuan dana pada Afghanistan. Dia menilai negara tersebut sedang menghadapi momen kehancuran.

"Saat ini, dengan aset yang dibekukan dan bantuan pembangunan dihentikan, ekonomi sedang mogok. Bank tutup dan layanan penting, seperti perawatan kesehatan telah ditangguhkan di banyak tempat," kata Guterres kepada awak media di markas PBB di New York, Senin (11/10).

Baca Juga

Menurutnya menyuntikkan likuiditas untuk mencegah keruntuhan ekonomi Afghanistan adalah masalah terpisah dari pengakuan Taliban. Di sisi lain, hal itu tak melanggar hukum internasional atau prinsip kompromi.

Menurut Guterres, proses penyuntikan dana dapat dilakukan lewat badan-badan PBB serta organisasi non-pemerintah yang beroperasi di Afghanistan. Dia menambahkan Bank Dunia juga bisa membuat dana perwalian.

Guterres mengatakan krisis kemanusiaan di Afghanistan berkembang dan memengaruhi setidaknya 18 juta warga di sana. Jumlah tersebut setara dengan setengah populasi Afghanistan.

Bantuan kemanusiaan tidak akan menyelesaikan krisis kecuali keruntuhan ekonomi dihindari. "Jelas, tanggung jawab utama untuk menemukan jalan kembali dari jurang maut terletak pada mereka yang sekarang berkuasa di Afghanistan," ujar Guterres.

"Jika kita tidak bertindak untuk membantu warga Afghanistan mengatasi badai ini, dan melakukannya segera, tidak hanya mereka, tapi seluruh dunia akan membayar harga yang mahal," kata Guterres.

Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada 15 Agustus lalu. Sebelum hal itu terjadi, pemerintahan di sana bergantung pada bantuan internasional. Sebanyak 75 persen pengeluaran negara berasal dari sumbangan tersebut.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement