Sabtu 25 Dec 2021 05:30 WIB

Pemulihan Psikologis Anak Korban di Malaysia Banjir Diutamakan

37 warga Malaysia meninggal akibat banjir.

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Muhammad Hafil
Sebuah keluarga melihat keluar dari rumah mereka setelah banjir melanda Taman Sri Muda, distrik Shah Alam, sekitar 40 km dari Kuala Lumpur, Malaysia, 21 Desember 2021.
Foto: EPA-EFE/FAZRY ISMAIL
Sebuah keluarga melihat keluar dari rumah mereka setelah banjir melanda Taman Sri Muda, distrik Shah Alam, sekitar 40 km dari Kuala Lumpur, Malaysia, 21 Desember 2021.

REPUBLIKA.CO.ID,KUALA LUMPUR -- Psikolog spesialis anak, Putri Afzan Maria Zulkifli menekankan pentingnya pemulihan psikologi anak-anak yang menjadi korban banjir di Selangor, Malaysia. Menurutnya, anak-anak harus dibantu agar dapat beradaptasi setelah mengalami pengalaman traumatis akibat bencana.

"Situasi mencekam seperti bencana alam dapat menyebabkan kecemasan dan stres pada anak karena mereka tinggal di lingkungan dengan resiko banjir tak menentu sehingga bisa kehilangan rasa keamanannya," kata Putri Afzan Maria Zulkifli seperti dinukil laman Bernama, Jumat (24/12).

Baca Juga

Dia mengatakan fisik dan mental anak harus berada di lingkungan yang aman dan nyaman. Dia meminta agar orang tua selalu membuka komunikasi positif dengan anak mereka.

Dia juga menyarankan para orang tua untuk menjelaskan langkah-langkah yang harus diambil agar merasa aman. Menurutnya, anak-anak harus diberikan pemahaman dasar agar mereka dapat mengerti tanpa harus menjelaskan lebih detail agar mereka tidak merasa takut.

Menurutnya, masalah psikologi usai bencana juga menghantui anak-anak selain pandemi Covid-19 sehingga dapat berpengaruh pada perkembangan mental dan emosi anak. Dia mengatakan, cerita dapat digunakan untuk memberikan terapi guna memperbaiki mental anak.

"Faktanya pandemi Covid-19 belum berakhir dan itu sudah berdampak pada anak secara langsung atau tidak sehingga perlu diutamakan," katanya.

Kepala konseling psikologi dari Rumah Sakit Tuanku Ja'afar, Noor Suraya Muhamad berpendapat bahwa mental anak dapat terus terjatuh apabila tidak segera mendapat pemulihan. Dia mengatakan, terus menurunnya kondisi mental dapat berpengaruh pada perubahan perilaku signifikan semisal tantrum, insomnia, kehilangan nafsu makan hingga antisosial.

"Kohesi sosial masyarakat dan keluarga sebelum bencana dan setelah proses pemulihan dan kehadiran anggota keluarga yang konstan dan kebersamaan di saat-saat sulit dapat mengurangi penderitaan masyarakat dan lebih efektif dalam membantu korban mengatasi stres pasca trauma," katanya.

Sebanyak 37 warga meninggal dan 10 orang dilaporkan hilang hingga Kamis (23/12) lalu akibat terjangan banjir di Malaysia. Bencana tersebut telah membuat 68.341 korban mengungsi di 396 pusat pengungsian di negara tersebut.

Sumber;

https://www.bernama.com/en/general/news_disaster.php?id=2037222

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement