Rabu 05 Jan 2022 20:33 WIB

Eks Pejabat Israel: Kesepakatan Nuklir Iran, Pilihan Terbaik dari Situasi Buruk

Iran berulangkali membantah sedang mengembangkan senjata nuklir.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah
Petugas polisi berdiri di depan Hotel Imperial tempat delegasi dari Iran menginap di Wina, Austria, Selasa, 6 April 2021. Pejabat kementerian luar negeri dari negara-negara yang masih dalam kesepakatan, yang disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama, bertemu. di Wina untuk mendorong upaya membawa Amerika Serikat kembali ke kesepakatan 2015 tentang program nuklir Iran.
Foto: AP/Florian Schroetter
Petugas polisi berdiri di depan Hotel Imperial tempat delegasi dari Iran menginap di Wina, Austria, Selasa, 6 April 2021. Pejabat kementerian luar negeri dari negara-negara yang masih dalam kesepakatan, yang disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama, bertemu. di Wina untuk mendorong upaya membawa Amerika Serikat kembali ke kesepakatan 2015 tentang program nuklir Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Mantan wakil penasihat keamanan nasional untuk otoritas Israel, Chuck Freilich, mengatakan, Israel menerima upaya Amerika Serikat (AS) untuk bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir 2015 atau Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Menurut Freilich, ini merupakan pilihan terbaik dari situasi yang buruk untuk Israel.

 “Akan menyenangkan jika perjanjian itu memasukkan hal-hal selain pengayaan nuklir, seperti kemampuan rudal Iran atau kebijakan regionalnya. Tapi saya pikir, itu tidak akan terjadi," ujar Freilich, dilansir Sputnik, Rabu (5/1).

Baca Juga

Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan mantan Presiden Donald Trump mengundurkan diri dari JCPOA. Ketika itu, AS juga menjatuhkan sanksi yang memperburuk perekonomian Iran. Sejak AS keluar dari JCPOA, Iran mulai meningkatkan pengayaan uranium yang mendekati tingkat senjata nuklir.

Namun Iran berulang kali membantah bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir. Iran mengatakan, mereka meningkatkan pengayaan uranium untuk kepentingan medis.

 

Kelompok garis keras Iran memahami bahwa JCPOA adalah kesepakatan buruk yang pernah ditandatangani, sehingga AS menarik diri dari perjanjian itu pada 2018. Penarikan AS dari JCPOA telah membuktikan kebenaran tersebut.

Iran telah menemukan cara untuk melawan sanksi Amerika dan Barat. Iran membangun 'ekonomi perlawanan' melalui kerja sama dengan China. Dalam hal ini, China telah menjadi alternatif Iran untuk berhubungan dengan Barat.

Freilich memperingatkan bahwa, secara teknis Iran memiliki waktu beberapa pekan ke depan untuk membuat senjata nuklir pertamanya. Freilich mengatakan, dalam waktu setengah tahun Iran memiliki uranium yang diperkaya dengan tinggi untuk membuat bom nuklir.

 “Tapi itu hanya komponen uranium yang kritis. Yang lainnya adalah persenjataan, kemampuan untuk mengambil hulu ledak dan memperkecilnya, meletakkannya di rudal dan membuat hulu ledak yang dapat menahan panas dan tekanan saat masuk kembali ke atmosfer.  Mereka belum ada di sana," kata Freilich.

Freilich yang sekarang bekerja sebagai rekan senior di Harvard's Kennedy School of Government, memperingatkan, serangan Israel terhadap infrastruktur nuklir Iran hanya memperlambat waktu mereka untuk membuat senjata nuklir selama dua atau tiga tahun.

Freilich berpendapat, Iran telah melakukan pengayaan uranium yang melewati ambang batas sehingga mereka mengetahui kemampuannya. Bahkan menurut Freilich,  Amerika Serikat (AS) tidak akan mampu menghancurkan nuklir Iran.

"Jadi bahkan jika Anda menghancurkannya menjadi abu, Iran dapat membangunnya kembali. Bahkan Amerika Serikat, dengan segala kemampuan dan status adidaya militernya, tidak dapat menghancurkan program nuklir Iran sepenuhnya, karena Iran tahu bagaimana menyusun kembali," ujar Freilich.

Freilich mengatakan, jika Israel menyerang fasilitas nuklir Iran, maka akan menerima tindakan balasan secara langsung dari Iran, maupun dari sekutu regional Teheran. Terutama dari Hizbullah di Lebanon. Freilich mengatakan, Hizbullah membangun gudang senjata dan memiliki sekitar 150 ribu roket.

Hizbullah mempunyai gudang senjata raksasa yang dibangun untuk skenario menghadapi serangan potensial dari Israel atau AS. Freilich mengatakan, jika Israel melancarkan serangan ke fasilitas nuklir Iran, maka mereka bisa melakukan serangan balasan skala besar melalui sekutunya di regional.

"Mereka akan menyerang kita secara besar-besaran. Mereka mulai membangun kehadiran di Suriah dan kehadiran Hizbullah di Suriah, mereka mulai menyebarkan rudal balistik di Irak, Yaman, atau mungkin di tempat lain.  Dan mereka sekarang memiliki rudal balistik, rudal jelajah, dan persenjataan drone mereka sendiri untuk menyerang kita. Jadi saya pikir Iran akan menanggapi Israel dengan sangat, sangat keras,” kata Freilich.

Freilich mengatakan, Israel akan menghadapi batasan jika situasinya meningkat menjadi konflik regional. Karena militer akan dipaksa untuk beroperasi di batas luar kemampuan. Selain itu, Israel akan dipukul secara besar-besaran dengan cara yang belum pernah dialami sepanjang sejarah.

"Kami harus siap untuk itu, dan saya tidak berpikir publik Israel sepenuhnya memahami seperti apa konflik dengan Hizbullah nantinya, apakah itu terkait dengan program nuklir Iran atau tidak," ujar Freilich.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement