Selasa 18 Oct 2022 10:53 WIB

Mengenal Metode Tafsir Ibnu Katsir

Dalam bidang tafsir, pada 1366 M, Ibnu Katsir diangkat menjadi guru besar.

Kitab Tafsir Ibnu Katsir (ilustrasi).
Foto: Wordpress.com
Kitab Tafsir Ibnu Katsir (ilustrasi).

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Sejatinya, Ibnu Katsir adalah sosok ulama yang sederhana dan tak menyukai popularitas. Ia mulai dikenal dan menjadi pusat perhatian umat Islam saat terlibat dalam penelitian untuk menetapkan hukum terhadap seorang zindik (orang yang dianggap sesat imannya-- Red) yang didakwa menganut paham hulul (inkarnasi). Penelitian itu diprakarsai oleh Gubernur Suriah Altunbuga an-Nasiri pada akhir tahun 741 H/1341 M.

Sejak itulah, Ibnu Katsir dipercaya untuk menduduki berbagai jabatan penting sesuai bidang keahlian yang dikuasainya. Dalam bidang ilmu hadis, pada 748 H/1348 M, Ibnu Katsir menggantikan gurunya Az-Zahabi (1284-1348 M) sebagai guru di Turba Umm Salib (Lembaga Pendidikan). Lalu, pada 756 H/1355 M, ia diangkat menjadi kepala Dar al-Hadis al- Asyrafiyah (Lembaga Pendidikan Hadis) setelah Hakim Taqiuddin as-Subki (683- 756 H/1284-1355 M) meninggal dunia.

Baca Juga

Dalam bidang tafsir, pada 1366 M, Ibnu Katsir diangkat menjadi guru besar oleh Gubernur Mankali Bugha di Masjid Umayyah, Damaskus. Dalam ilmu tafsir, ia mempunyai metode tersendiri. Pertama, ia menafsirkan Alquran dengan Alquran. Kedua, bila penafsiran Alquran dengan Alquran tidak didapatkan, Alquran ditafsirkan dengan hadis Nabi SAW, menurut Alquran sendiri, Nabi memang diperintahkan untuk menerangkan isi Alquran.

Ketiga, kalau yang kedua tidak dida - patkan, Alquran harus ditafsirkan oleh pendapat- pendapat para sahabat karena merekalah orang yang paling mengetahui konteks sosial turunnya Alquran. Keempat, jika yang ketiga juga tidak didapatkan, pendapat para tabiin perlu diambil. Dalam bidang fikih, ia menjadi tempat berkonsultasi oleh para penguasa dalam persoalanpersoalan hukum.

Ibnu Katsir pernah dimintai pendapat dalam pengesahan keputusan yang berhubungan dengan korupsi pada 1358 dan mewujudkan rekonsiliasi dan perdamaian setelah terjadinya perang saudara atau Pemberontakan Baydamur (1361), serta dalam menyerukan jihad (1368-1369).

Ibnu Katsir wafat di Kota Damaskus pada 774 H/1373 M atau beberapa tahun setelah ia menyusun kitab al-Ijtihad fi Talab al-Jihad. Selanjutnya, jasadnya dimakamkan di kompleks pemakaman sufi yang berada di Kota Damaskus. Pusaranya tepat berada di sisi makam guru yang sangat dihormati dan dicintainya, Ibnu Taimiyah.

sumber : Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement