Senin 04 Jan 2021 18:05 WIB

Selain Nakes, Sopir Ambulans Prioritas Vaksinasi di Jateng

Jateng memastikan 31.255 nakes dan petugas penunjang kesehatan masuk prioritas vaksin

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yudha Manggala P Putra
Ambulans bersiap memasuki rumah sakit. Ilustrasi
Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA
Ambulans bersiap memasuki rumah sakit. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah memastikan ada 31.255 orang di sektor kesehatan menjadi sasaran prioritas vaksinasi Covid-19 tahap pertama. Selain tenaga kesehatan (nakes), vaksinasi pertama menyasar petugas penunjang kesehatan lain seperti sopir ambulans hingga petugas pemulasaraan jenazah.

Kepala Dinkes Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo mengatakan, pada distribusi tahap pertama, Jawa Tengah telah menerima 62.560 dosis vaksin Sinovac dari pemerintah pusat. Nakes dan tenaga penunjang kesehatan menjadi prioritas karena dinilai memiliki risiko tinggi terhadap penularan Covid-19.

Proses vaksinasi direncanakan mulai tanggal 14 Januari 2021. “Setiap satu orang, nantinya akan mendapat dua kali vaksinasi,” ungkapnya, saat menggelar press conference secara daring, di Semarang, Jawa Tengah, Senin (4/1).

Meski begitu, lanjut Yulianto, tidak semua nakes dan tenaga penunjang kesehatan bisa mendapatkan vaksin tahap pertama. Ada sejumlah persyaratan tertentu.

Misalnya, vaksin Sinovac tidak boleh diberikan pada usia di atas 59 tahun, memiliki komorbid seperti diabetes, gangguan jantung dan lainnya, serta pernah terinveksi Covid-19.

“Vaksin ini juga tidak boleh disuntikkan pada wanita hamil atau wanita yang sedang menyusui,” tegasnya.

Nantinya, lanjut Yulianto, ke-62.560 dosis vaksin Sinovac yang telah diterima oleh Dinkes Jawa Tengah akan segera didistribusikan ke seluruh kabupaten/ kota. Itu setelah proses pendataan dan pelengkapan administrasi dan pengecekan --yang masih dilakukan-- rampung.

Nantinya, jumlah vaksin tersebut akan dibagikan habis ke seluruh kabupaten/ kota sesuai dengan rencana prioritasnya. “Jadi semuanya (35 kabupaten/ kota di Jawa Tengah) akan mendapatkan untuk tahap pertama ini,” jelasnya.

Oleh karena itu, jumlah dosis yang bakal diterima masing- masing kabupaten/ kota tidak sama. Di beberapa daerah akan mendapatkan lebih banyak, dan sejumlah daerah lainnya akan mendapatkan dalam jumlah lebih sedikit.

“Misalnya Kota Semarang tahap awal ini akan dapat 5.450 dosis, dan Kota Solo mendapat 4.364 dosis. Untuk daerah lain, sedang kami finalisasi data jumlahnya,” tambah Yulianto.

Terkait dengan distribusi vaksin tahap pertama yang bakal segera dilakukan tersebut, ia juga meminta kepada masyarakat di Jawa Tengah untuk tetap tenang karena vaksin yang datang saat ini baru tahap pertama.

Nantinya, sebanyak 23,3 juta warga Jawa Tengah akan mendapatkan vaksin Covid-19 dari pemerintah. Namun akan ada beberapa tahap, karena jumlah sasaran vaksinasi di Jawa Tengah ada 23,3 juta.

Jumlah tersebut lebih dari 70 persen dari populasi penduduk di Jawa Tengah. “Sehingga, kalau vaksinasi tersebut bisa dilaksanakan maka herd immunity (kekebalan kelompok) masyarakat di Jawa Tengah akan bisa tercapai,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan, terkait dengan proses vaksinasi, nantinya seluruh Puskesmas(878 Puskesmas) dan 316 rumah sakit yang ada di Jawa Tengah akan menjadi tempat layanan pemberian vaksinasi.

Beberapa klinik swasta juga akan digandeng untuk pelaksanaan vaksinasi tersebut dengan ketentuan serta persyaratan tertentu. Sedangkan untuk vaksinator, Dinkes Jawa Tengah menyiapkan dan semua telah dilatih.

Untuk vaksinasi tahap pertama ini, sudah ada 2.785 petugas (vaksinator) yang telah dilatih. “Sementara untuk vaksinasi tahap kedua sudah ada 6.317 vaksinator yang disiapkan dan akan nantinya terus berjalan,” lanjutnya.

Disinggung terkait keamanan vaksin, Yulianto mengatakan bahwa vaksin yang nantinya bakal digunakan di Indonesia sudah dijamin keamanannya. Masyarakat tidak perlu khawatir, karena vaksin sudah terjamin keamanan dan kehalalannya.

Bahkan efektivitas dan keamanan vaksin tersebut juga sudah teruji melalui berbagai tahapan uji klinis. “Jadi masyarakat tidak perlu khawatir, soal keamanan, efektifitas maupun masalah kehalalan juga sudah terjamin,” tandasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement