Rabu 15 Mar 2023 12:49 WIB

Ongkos Haji tak Membedakan Umur Jamaah

Biaya haji merupakan hasil kesepakatan wakil rakyat dan kementerian agama.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Erdy Nasrul
Seorang jamaah haji berdoa saat mengikuti prosesi puncak haji di Makkah, Arab Saudi.
Foto: ANTARA/Saudi Press Agency
Seorang jamaah haji berdoa saat mengikuti prosesi puncak haji di Makkah, Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perencanaan biaya atau ongkos haji tidak pernah membedakan usia jamaah, apakah mereka berumur muda atau sudah tua alias lanjut usia (lansia). Pembahasan biaya haji berlangsung secara terbuka bersama Komisi VIII DPR yang merupakan mitra Kementerian Agama.

"Jadi biaya haji kita tentukan dan rencanakan bersama legislatif secara terbuka ya," ujar Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief, merespon pernyataan tertulis yang disampaikan pihak Haris Azhar Law Office.

Baca Juga

Dalam keterangannya, Haris Azhar Law Office mendesak agar negara mengecualikan pembebanan biaya tambahan pelunasan haji pada jamaah haji lansia yang masuk ketegori lunas tunda tahun 1443 H/2022 Masehi sebesar Rp 9.400.000, serta jamaah haji lansia tahun 1444 H/2023 M sebesar Rp 23.500.000.

“Biaya haji (reguler) ini sama semua, tidak ada pembedaan antara muda dan tua. Ini juga sejalan dengan konsep istitha’ah, karena haji adalah kewajiban bagi mereka yang mampu,” kata Hilman Latief dalam keterangan yang didapat Republika, Rabu (15/3/2023).

Ia menyebut emua proses pembahasan dana haji juga dilakukan terbuka, transparan dan akuntabel, melalui mekanisme pembahasan bersama antara pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama bersama Komisi VIII DPR.

BPIH yang telah ditetapkan bersama DPR tidak semestinya diistilahkan sebagai pembebanan. Pasalnya, tidak semua BPIH itu dibayarkan sepenuhnya oleh jamaah haji.

Dalam rapat kerja yang berlangsung pada 15 Februari 2023, telah disepakati besaran BPIH 1444 H/2023 M dengan rata-rata Rp 90.050.637,26 per-jamaah haji reguler. Angka ini terdiri atas dua komponen, yaitu Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang ditanggung jemaah dengan rata-rata Rp 49.812.700,26 (55,3 persen) dan penggunaan nilai manfaat per jemaah sebesar Rp 40.237.937.

Dengan skema ini, penggunaan dana nilai manfaat keuangan haji secara keseluruhan mencapai Rp 8.090.360.327.213,67. Selain itu, disepakati juga adanya afirmasi khusus bagi jamaah lunas tunda tahun 2020 sehingga dibutuhkan tambahan nilai manfaat mencapai Rp 845 miliar.

“Jadi dalam komposisi BPIH, jamaah sebenarnya hanya membayar Biaya Perjalanan Ibadah  Haji atau Bipih dengan rata-rata 55,3 perse. Sisannya, anggaran diambilkan dari nilai manfaat dengan rerata 44,7 persen,” ucap Hilman.

Dirjen PHU mengakui, jumlah jamaah haji lansia yang akan berangkat tahun ini cukup banyak. Dari 203.320 kuota jamaah haji reguler, diperkirakan ada lebih 64 ribu di antaranya yang masuk kategori lansia.

Banyaknya jamaah haji lansia ini menjadi perhatian Kementerian Agama. Bahkan, penyelenggaraan tahun ini mengusung tagline ‘Haji Ramah Lansia’.

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas disebut sangat menekankan untuk bisa memberikan layanan terbaik kepada jamaah, termasuk mereka yang lansia.

“Jadi, semangat Haji Ramah Lansia ini juga merepresentasikan ikhtiar kami dalam memberikan layanan terbaik untuk mereka yang sudah lanjut usia, tentu dengan tidak mengabaikan hak-hak jemaah secara keseluruhan,” kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement