Senin 15 May 2023 08:08 WIB

Haji Ramah Lansia, Perdokhi: Pembinaannya Harus Lebih Kuat

Ramah lansia dijadikan tagline penyelenggaraan haji tahun ini.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Petugas membantu jamaah haji lansia setibanya di Asrama Haji Transit di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (9/9/2019).
Foto: Antara/Mohamad Hamzah
Petugas membantu jamaah haji lansia setibanya di Asrama Haji Transit di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (9/9/2019).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA --  Pada penyelenggaraan ibadah tahun ini, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag tahun ini mengusung tagline Haji Ramah Lansia. Ketua Umum Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (Perdokhi), dr Syarief Hasan Luthfie mengatakan, agar jamaah lansia tahun ini tidak banyak yang meninggal dunia, maka persiapan pembinannya harus lebih kuat. 

Dia menjelaskan, ramah lansia dan disabilitas dijadikan tema pemberangkatan haji tahun ini karena panjangnya antrean dari 5 sampai 47 tahun, sehingga semakin banyak orang yang menjadi lansia. Maka, semua jamaah yang terdaftar banyak 221 ribu, ada 45 persen jamaah lansia atau sekitar 92 ribu jamaah lansia.

Baca Juga

Sementara, menurut dia, setelah menjadi lansia minimal ada tiga macam penyakit yang dialami, yaitu penyakit degeneratif, sistematik, dan metabolik. Karena itu, kata dia, para petugas harus disiapkan mulai dari persiapan pembinaan pelayanan smapai perlindungan kepada jamaah haji.

"Masalah pelayanan ini tentu saja bukan hanya ramah secara santunitas, tapi akses bagaimana membantu kemudahan para lansia untuk melakukan ibadah. Karena, untuk ibadah itu sifatnya fisik yang memang harus mereka kuatkan," ujar dr Syarief saat sambutan dalam acara Halal bi Halal Perdokhi di Coffee 31 Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (14/5/2023).

 

Dia mengatakan, jika sebelumnya calon jamaah lansi lemah, maka harus dikuatkan. Kemudian, yang tadinya tidak mampu jalan harus dibantu alat bantu. Sedangkan yang tadinya memang mereka sakit diabetes harus betul dijaga pola minum obatnya, dietnya dan sebagainya.  

"Artinya kesiapan petugasuntuk ramah lansia ini luar biasa dengan risiko terjadinya angka kematian 2 per mil yang seperti tahun-tahun sebelumnya. Nah supaya tidak terjadi ini, tentu persiapan pembinaannya harusnya lebih kuat," ucap Mantan Dirut RS Haji Jakarta ini. 

Jika pembinannya tidak kuat, tambah dia, maka akan muncul risiko komplikasi yang sangat besar. Karena itu, menurut dia, Perdokhi mengingatkan para petugas dan para jamaahnya agar persiapan yang dilakukan di Tanah Air lebih dikuatkan di pemataannya. 

"Misalnya orang yang mobilisasinya bermasalah bagaimana akses kursi rodanya, bagaimana akses rujukannya. Lalu, orang yang obatnya tidak lengkap supaya dilengkapi obat-obatannya. Dan orang yang tadinya tidak ada pendamping harus diberikan pendamping," kata dr Syarief.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama (Kemenag), Ahmad Abdullah Yunus menjelaskan, Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas sudah menyiapkan tenaga-tenaga muda untuk melayani jamaah lansia tahun ini. 

"Pak menteri menyiapkan tenaga-tenag muda untuk bisa betul-betul melayani jamaah lansia, dan fokus juga kita tahun ini ada kurang lebih 4800 yang menggunakan kursi roda. Ini harus jadi perhatian tersendiri dan kita upayakan yang 4800 ada pendamping dari jamaah-jamaah kita," ujar Abdullah saat ditemui pelepasan ekspor perdana produk bumbu instan dan makanan cepat saji “Smartpack” ke Arab Saudi di Kantor Pusatnya, Ciracas, Jakarta Timur pada Jumat, (12/5/2023).

Sebelumnya, menurut dia, kuota petugas haji sendiri hanya 4500 orang, tapi kemudian ditambah lagi sebanyak 300 untuk lebih fokus mengurusi calon jamaah haji lansia. Nantinya ada Kepala Bidang Pelayanan Lansia dan Disabilitas, yang akan dibantu Kepala Seksi di setiap kantor daerah kerja (Daker). Di setiap sektor wilayah juga disiapkan 10 petugas haji ramah lansia yang siap melayani jemaah setiap saat.

"Jadi kalau petugas yang hanya 4500 itu gak bisa mencover layanan. Makanya, setiap regu atau setiap rombongan, formasinya itu disesuaikan. Jadi setiap regu 10 orang, maksimal lansianya tiga," ujar Abdullah.

"Setiap rombongan 45 orang dan maksimal lansianya 15 orang. Misalnya, setiap kloter kalau ada 390 jamaah, itu maksimal jangan lebih dari 30 persen lansianya, sehingga ada keseimbangan," kata dia.

Jika dalam satu kloter lansia semua, tambah dia, maka petugas yang tersedia tidak cukup untuk mengurusnya. Karena itu, dia pun mengimbau kepada calon jamaah haji yang berangkat tahun ini untuk saling bahu membahu. 

"Makanya selain itu, kita juga meminta kepada jamaah solidaritasnya. Gotong royongnya ini memang berat tapi harus. Karena kalau gak dibeginikan, nanti yang lansia tambah numpuk. 

Jadi betul-betul pak menteri ini ekstra betul bagaimana misi mengurangi lansia ini," jelas Abdullah.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement