Ahad 18 Jun 2023 18:40 WIB

Jamaah Haji yang Miqat di Bir Ali Diminta Waspada Cuaca Panas

Jamaah diminta membawa kantong untuk sandal sehingga terhindar dari kaki melepuh.

Rep: Agung Sasongko/ Red: Ani Nursalikah
Sebanyak lima kloter atau 1.899 jemaah haji Indonesia akan diberangkatkan ke Miqat Bir Ali pada 1 Juni 2023. Di Bir Ali jemaah akan mengambil miqat atau niat umrah wajib sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah.
Foto: Republika/Agung Sasongko
Sebanyak lima kloter atau 1.899 jemaah haji Indonesia akan diberangkatkan ke Miqat Bir Ali pada 1 Juni 2023. Di Bir Ali jemaah akan mengambil miqat atau niat umrah wajib sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah.

REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Jamaah haji Indonesia kuota tambahan yang transit di Madinah kemudian mengambil miqat di Bir Ali perlu mewaspadai cuaca panas. Jamaah haji akan tersengat terik matahari yang kemungkinan tercipta luka di telapak kaki jamaah haji yang tanpa alas sandal atau sepatu. 

Saat ini, suhu udara siang hari di Bir Ali kisaran 43 derajat celsius. Barangkali sandal termasuk urusan sepele di tanah air, tetapi bagi jamaah haji di Bir Ali, sandal bisa menjadi sarana penyelamat jamaah haji.  

Baca Juga

"Secara medis, kaki yang melepuh akibat kepanasan itu tidak dapat disembuhkan dalam waktu singkat. Jika tingkat luka bakarnya tinggi atau sampai merasuk ke kulit bagian dalam maka proses penyembuhan bisa makan waktu lama," kata dokter Tejo Katon, petugas PPIH Arab Saudi sektor Bir Ali yang diberikan tugas tambahan sebagai tenaga kesehatan di Bir Ali, Ahad (18/6/2023).

Dokter Tejo Katon menjelaskan telapak kaki yang melepuh perawatannya harus dilakukan secara bertahap. Pertama, telapak kaki harus didinginkan dengan cara diguyur air sekitar 10 menit. Kemudian kulit yang mati atau rusak akibat terbakar panas harus dikelupas. Kemudian setelah bersih, kulit diberi obat.

Jamaah haji boleh berjalan kalau luka di kulit itu sembuh. Artinya, proses ibadah jamaah haji menjadi terganggu. 

Kondisi ini bisa semakin parah apabila kasus menimpa jamaah haji dengan komorbid Diabetes Melitus (kencing manis). Ketika saraf di kaki kurang sensitif, jamaah haji dengan penyakit ini kadang tidak merasakan kakinya terluka.

Biasanya jamaah haji baru tersadar setelah melihat luka dan darah pada kakinya. Luka pada jamaah haji dengan penyakit ini perlu waktu lebih lama untuk sembuh. Itu pun butuh perawatan tepat dan intensif.

"Untuk itu ketika memasuki Masjid Bir Ali, jamaah haji Indonesia kami sarankan sandal dimasukkan ke dalam plastik dan dibawa jamaah haji itu sendiri. Sehingga setelah beribadah dan keluar masjid, alas kaki itu dapat digunakan lagi. Imbauan agar jamaah haji Indonesia membawa sandal dan menyimpannya sendiri saat beribadah telah berkali-kali disampaikan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH)," kata Tejo yang juga Ketua PW FKAPHI (Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia) Wilayah DIY.

"Sekali lagi, jamaah haji Indonesia untuk selalu memperhatikan alat pelindung diri (APD) saat keluar dari pondokan atau saat beraktivitas di luar pondokan, baik itu payung, sandal atau sepatu, masker, semprotan wajah, pelembap bibir dan juga yang terpenting untuk selalu minum untuk menghindari dehidrasi," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement