Selasa 27 Jun 2023 21:13 WIB

Ketimbang Keluar Maktab, Jamaah Haji Diimbau Perbanyak Dzikir

Jamaah haji diimbau memperbanyak dzikir.

Tarwiyah merupakan ibadah sunnah yang dilakukan sehari sebelum Wukuf di Arafah tepatnya hari ke-8 bulan Zulhijah, yang menandai dimulainya ibadah haji tahunan. 
Foto: AP
Tarwiyah merupakan ibadah sunnah yang dilakukan sehari sebelum Wukuf di Arafah tepatnya hari ke-8 bulan Zulhijah, yang menandai dimulainya ibadah haji tahunan. 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Agung Sasongko dari Makkah, Arab Saudi

Jamaah Haji Indonesia yang berada di Arafah untuk melaksanakan wukuf diimbau tak banyak keluar maktab.

Baca Juga

Kepala Bidang Bimbingan Ibadah PPIH Arab Saudi Suratman mengingatkan cuaca di Arafah saat ini sangat panas. "Sering minum agar tidak dehidrasi karena cuacanya cukup panas," ujarnya, Selasa (27/6/2023).

Suratman mengimbau kepada jamaah haji untuk memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. "Karena ini waktu paling mustajab, perbanyak dzikir," katanya. 

Senada, Kasi Bimbingan Ibadah Daker Madinah Yendra Al Hamidy menjelaskan, di Arafah, para jamaah menempati tenda sesuai dengan maktabnya masing-masing. Selanjutnya jamaah beristirahat sebentar. Selama menunggu wukuf jamaah haji diimbau melakukan kegiatan bermanfaat. 

"Wukuf dimulai ba'da jawal sebelum masuknya waktu Zhuhur. Sebelum memasuki wukuf jamaah haji bisa membaca Alquran, bertobat, kemudian merenung, mengingat dosa-dosa yang telah diperbuat, istighfar dan meminta ampun kepada Allah SWT," pesannya. 

Mendekati waktu wukuf, pembimbing ibadah akan memberitahu kepada jamaah kapan wukuf mulai dilakukan. "Para jamaah kemudian mendengarkan khutbah wukuf, lalu dilanjutkan sholat Zhuhur dan Ashar jamak takdim," ucapnya. 

Setelah melaksanakan wukuf, jamaah lalu diberangkatkan ke Muzdalifah untuk mengambil batu kerikil sebanyak 49 butir hingga 70 untuk lempar jumrah bagi jamaah yang akan mengambil nafar awal di Mina. Sedangkan, jamaah haji yang akan nafar tsani mengambil batu untuk lempar jumrah sebanyak 70 butir. 

Setelah mengambil batu, jamaah lalu diberangkatkan secara bertahap ke Mina untuk menginap atau mabit. Pada 10 Dzulhijjah atau 28 Juni, jamaah menuju ke jamarat untuk lempar jumrah aqabah. 

Pada 11 Dzulhijjah atau 29 Juni, jemaah ke jamarat lagi untuk melontar jumrah ula, wustha, dan aqabah dengan masing-masing tujuh batu kerikil. Hal yang sama juga dilakukan pada 12 Dzulhijjah atau 30 Juni, jamaah haji kembali ke jamarat untuk melontar jumrah, yaitu ula, wustha, dan aqabah dengan tujuh batu kerikil.

Bagi jamaah haji yang mengambil nafar awal, bersiap kembali ke Makkah sebelum matahari terbenam. Sedangkan bagi jamaah nafar tsani, menginap satu malam lagi di Mina. 

Kemudian pada 13 Dzulhijjah atau 1 Juli, jamaah kembali ke jamarat untuk lempar jumrah dengan tujuh batu kerikil untuk selanjutnya kembali ke Makkah.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement