Ahad 02 Jul 2023 21:51 WIB

Tata Kelola Dam Petugas Haji Dibenahi

Pengelolaan dam petugas haji terintegrasi dimulai tahun ini.

Rep: Agung Sasongko/ Red: Muhammad Hafil
Direktur Jenderal (Dirjen) Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU), Hilman Latief di Makkah, Arab Saudi. Selasa (20/6/2023)
Foto: Republika/Fuji E Permana
Direktur Jenderal (Dirjen) Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU), Hilman Latief di Makkah, Arab Saudi. Selasa (20/6/2023)

REPUBLIKA.CO.ID,MAKKAH -- Kementerian Agama menggandeng Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Al Okaishiah untuk mengurus dam petugas haji. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Hilman Latief, mengatakan pengelolaan dam terintegrasi ini baru dilakukan tahun ini. Untuk kesempatan pertama, diwajibkan bagi petugas haji, sedangkan untuk jamaah belum diwajibkan. 

Ini merupakan sebuah langkah besar dalam pengelolaan dam yang berdampak besar. Ini juga sekaligus menata ulang pola pembayaran dam. 

Baca Juga

"Kita ingin ada perbaikan. Ini termasuk perlindungan kepada jamaah. Karena jelas dipilihnya, dibelinya, dipotongnya, dan dibagikannya," kata Hilman di lokasi, Ahad (2/7/2023). 

Selain itu, tata kelola dam yang baru ini bisa memberikan dampak besar kepada masyarakat di Indonesia. Sebelumnya daging hewan dam hanya didistribusikan ke warga Makkah, kini bisa dikirim ke Indonesia. 

 

"Fatwa ulama Indonesia mendorong pemanfaatan sebesar-besarnya hadyu. Memulai langkah ini agar jadi model bisa dimanfaatkan tidak hanya di Saudi tapi sampai ke Indonesia," jelas dia.

"Ekosistem sudah dipelajari, tata kelola sudah dipahami. Ke depannya bisa buat disarankan kepada jamaah," tambah dia. 

Kemenag sudah menggandeng Baznas dalam pendistribusian daging hewan dam. Untuk tahun ini, ada 3. 117 ekor kambing yang disembelih. 2.674 dari petugas dan 443 dari jemaah.

"Untuk tahun ini ada 3.117 kambing kurang lebih bisa jadi 75 ribu pouch (kantong)," kata Ketus Baznas Noor Achmad.

Noor mengatakan, potensi daging hewan dam sangat besar. Jika ada 220 ribu jemaah Indonesia menyembelih kambing untuk dam, maka bisa menghasilkan 4.5 juta kantung daging yang siap dikirim ke Indonesia. 

"Manfaatnya sangat besar untuk mengentaskan stunting dan kemiskinan di indonesia," kata dia. 

"Saat ini kita punya 4,5 juta kemiskinan ekstrem dan 6 juta kasus stunting. Dengan persediaan daging yang besar meski baru uji coba kalau nanti hasilnya bagus akan diteruskan ke depannya," imbuh dia. 

Direktur Bina Haji Ditjen PHU Kemenag, Arsad Hidayat, mengatakan tata kelola dam ini tidak cuma soal akuntabilitas, tapi kesempurnaan syariat. Sebab, kambing untuk dam juga ada syarat yang harus dipenuhi.

Dengan adanya kerja sama ini, kambing yang dipilih sudah sesuai dengan syariat, begitu juga dengan proses penyembelihan hingga daging didistribusikan. 

"Pengiriman daging harus diproses dulu. dikantungin dan divakum dimasak setengah matang yang akan dikirim ke masyarakat Indonesia. Ini juga dalam rangka pengentasan kemiskinan, kita dari haji punya kontribusi dan peran," tutur dia. 

Kepala Daker Makkah Khalilurrahman mengatakan, RPH Al-Okaishiah ini memiliki standar tata kelola yang baik. Seluruh fasilitas ditangani oleh pekerka profesional. 

Jemaah yang menyembelih hewan di sini juga lebih tenang karena bisa memilih kambing sendiri, melihat penyembelihan hingga menjadi daging yang siap didistribusikan. 

Tak hanya itu, RPH ini memiliki cold storage yang menjamin daging tetap fresh sebelum dikirim ke Indonesia. Harga kambing juga masuk akal, yakni SAR 600.

"Ini bertujuan dalam rangka perwujudan akuntabilitas pembayaran dam khususnya petugas. Juga dalam rangka edukasi tata kelola dam sesuai syariah yang akuntable, transparan, dan profesional," ucap dia.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement