Rabu 05 Jul 2023 16:33 WIB

Tradisi Unik Sambut Jamaah Haji di Makassar

Masyarakat Indonesia sangat antusias menyambut kedatangan jamaah haji.

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah
Jamaah haji berjalan saat turun dari pesawat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Kamis (/28/7/2022). Sebanyak 394 jamaah haji kloter pertama Debarkasi Makassar asal Makassar, Soppeng dan Pare-Pare tiba kembali di tanah air seusai menunaikan ibadah haji.
Foto: ANTARA/Abriawan Abhe
Jamaah haji berjalan saat turun dari pesawat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Kamis (/28/7/2022). Sebanyak 394 jamaah haji kloter pertama Debarkasi Makassar asal Makassar, Soppeng dan Pare-Pare tiba kembali di tanah air seusai menunaikan ibadah haji.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci Makkah, jamaah haji mulai pulang ke Indonesia secara bertahap sejak Selasa (4/7/2023) kemarin. Dalam menyambut jamaah yang baru melaksanakan haji, setiap daerah memiliki tradisi yang berbeda.

Tradisi menyambut jamaah haji di Indonesia merupakan suatu peristiwa yang sangat penting dan meriah. Masyarakat Indonesia umumnya sangat antusias dalam menyambut kedatangan jamaah haji setelah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Makkah dan Madinah.

Baca Juga

Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi yang unik dalam menyambut kedatangan jamaah haji, tergantung pada budaya dan adat istiadat setempat. Seperti di Makassar, masyakarat Bugis di daerah ini kerap menjalankan tradisi mappatoppo’ untuk menyambut kepulangan jamaah haji.

Mappatoppo’ adalah tradisi haji Bugis-Makassar dengan cara meletakkan peci atau serban bagi jamaah laki-laki atau cipo’-cipo’ (kerudung) bagi jamaah perempuan.

Dilansir dari situs resmi Kemenag, mappatoppo’ merupakan Tasyakur atau rasa bersyukur atas suksesnya beribadah haji dengan seluruh rangkaian ritual ibadah haji. Rasa syukur kepada Allah SWT karena ibadah haji adalah bagian dari kehendak Allah SWT.

Mappatoppo’ juga merupakan bagian dari upaya menguatkan dan melestarikan haji mabrur. Dengan dikukuhkan dan disaksikan seluruh yang hadir, memberi makna tersendiri bagi seseorang yang sukses beribadah haji.

Mappatoppo’ memberi rasa bahagia tersendiri bagi masyarakat Bugis, Makassar atau Sulawesi Selatan pada umumnya. Ini tradisi yang memiliki nilai religius yang patut dilestarikan dan pelihara tanpa dipertentangkan dengan nilai-nilai ajaran agama.

Dalam penelitiannya yang berjudul Tradisi Penggunaan Busana Haji dalam Suku Bugis, Nirwanti dkk menjelaskan mappatoppo’ adalah tradisi yang dilakukan setelah menyelesaikan rangkaian rukun haji. Harapan dari pelaksanaan tradisi tersebut ialah agar hajinya mabrur dan mendapat berkah dari Allah SWT, sebagaimana doa yang dipanjatkan ketika melakukan ritual mappatoppo’.

Jika kembali menilik esensi dan hakiki sebenarnya, tradisi mappatoppo’ dapat diimplementasikan dalam akhlakul karimah. Maka, seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji harus berakhlakul karimah dari segala aspek, termasuk istiqamah menutup aurat pascahaji.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement