Jumat 21 Jul 2023 16:18 WIB

Kematian Terbanyak Jamaah Haji Lima Tahun Terakhir, Ini Penyebabnya Menurut Puskes Haji

Kesakitan dan kematian jamaah haji melonjak tajam saat prosesi Mina dan pasca-Armina.

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Ani Nursalikah
Jamaah haji dari berbagai negara yang sedang melaksanakan sai
Foto: Republika/Fuji Eka Permana
Jamaah haji dari berbagai negara yang sedang melaksanakan sai

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Pusat Kesehatan (Puskes) Haji Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Liliek Marhaendra Susilo mengatakan jumlah jamaah haji meninggal tahun ini hingga Kamis (20/7/2023) merupakan yang terbanyak selama lima tahun terakhir.

Menurut dia, 701 jamaah meninggal paling banyak karena sepsis dan penyakit jantung. Dalam penjelasan dia, 84,75 persen korban meninggal merupakan jamaah lansia.

Baca Juga

“Angka kesakitan dan kematian jamaah haji melonjak tajam saat prosesi Mina dan pasca-Armina,” kata Liliek saat dikonfirmasi, Jumat (21/7/2023).

Dia menjelaskan, tingginya angka kematian haji sejauh ini disebabkan beberapa hal. Pertama, karena tingginya jumlah jamaah haji lansia yang mencapai 45 persennya, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kedua, tingginya jamaah haji risti (75 persen) dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

 

“Lalu, terjadinya insiden pemicu seperti keterlambatan jamaah keluar dari Muzdalifah dan kurangnya fasilitas di Mina (air, makanan, dan tenda),” katanya.

Berdasarkan kejadian selama ini, dia menyimpulkan permasalahan pada lansia saat di Arab Saudi karena adaptasi fisik dan mental atas perubahan lingkungan sosial. Jika hal itu dibiarkan, ia menyebut ada risiko yang memicu beberapa hal.

“Pertama, mudah mengalami disorientasi karena penurunan kemampuan daya ingat dan pikir. Kedua, mudah mengalami kelelahan karena penurunan kemampuan fisik,” katanya.

Tak sampai di sana, jamaah juga bisa mengalami kekambuhan penyakit penyerta. Selain dari mudahnya terjangkit infeksi karena penurunan daya tahan tubuh.

Ditanya kemungkinan dehidrasi atau layanan kesehatan lainnya, Liliek menyebut sudah dilakukan sejak lama. Di Makkah dan Madinah, contohnya ada klinik kesehatan yang merawat jamaah dengan kategori keparahan sedang.

“Untuk tingkat keparahan berat kami rujuk ke RS Arab Saudi,” kata dia.

Liliek menambahkan ia juga sudah menerjunkan tim promosi kesehatan ke penginapan jamaah haji untuk menjaga kesehatan dan perilaku yang menunjang kesehatan. Utamanya, selama di Arab Saudi.

“Termasuk mengingatkan agar tetap minum air putih meskipun tidak merasa haus minimal dua liter per hari,” ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement