Senin 18 Sep 2023 21:36 WIB

Menlu AS: Normalisasi Arab Saudi dan Israel Sangat Mungkin, Tapi tidak Pasti Terjadi

Amerika sedang berupaya menormalisasi hubungan diplomatik Arab Saudi dan Israel.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Bendera Israel dan Arab Saudi. (Ilutrasi(
Foto: google.com
Bendera Israel dan Arab Saudi. (Ilutrasi(

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON -- Amerika sedang berupaya menormalisasi hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Israel. Tujuannya mencapai perjanjian transformatif. Tetapi prosesnya masih belum membahas hal-hal spesifik, termasuk Palestina.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken, seperti dilansir Gulf News, Senin (18/9/2023). "Bahkan ketika kami sedang mengerjakannya, ini masih merupakan proposisi yang sulit," kata Blinken kepada wartawan.

Baca Juga

Dia menambahkan, hal-hal spesifik dari setiap perjanjian, dalam hal apa yang diinginkan oleh berbagai pihak, merupakan suatu tantangan tersendiri. Karena itu, meski dirinya menilai hal tersebut sangat memungkinkan dilakukan, maka tetap bukan hal yang pasti terjadi.

"Saya yakin itu sangat mungkin terjadi, tetapi ini sama sekali bukan suatu kepastian. Namun kami juga yakin, ada manfaat yang akan diperoleh kalau kami mampu mencapainya, yang tentunya sepadan dengan usaha yang kami lakukan," kata Blinken.

 

Blinken juga menanggapi ihwal apakah kesepakatan itu akan bermanfaat bagi AS, mengingat penolakan Arab Saudi baru-baru ini untuk meningkatkan produksi minyak dan desakan Israel untuk memperluas pemukiman kontroversial.

Dia mengatakan pemerintahan Biden mengharapkan kemajuan dalam sejumlah persoalan yang menjadi perhatian AS dalam kesepakatan apa pun yang dicapai antara kedua negara.

Menurut Blinken, kesepakatan Saudi dan Israel juga akan membawa stabilitas yang lebih besar ke Timur Tengah. Dia menuturkan, pengakuan negara Yahudi sebagai penjaga tempat-tempat suci umat Islam akan bergema dengan sangat kuat di seluruh wilayah.

"Kita telah berulang kali tertarik pada wilayah tersebut, ketika wilayah tersebut berada dalam kekacauan, ketika wilayah tersebut berada dalam konflik," kata Blinken. Dia mengatakan, wilayah yang ditentukan oleh integrasi akan menjadi peristiwa yang sangat positif.

Namun, Blinken menyatakan, kesepakatan apa pun yang mungkin terjadi tidak akan menjadi pengganti bagi Israel dan Palestina yang juga menyelesaikan perbedaan mereka. "Dan, menurut penilaian kami, terus bergerak menuju dan pada akhirnya mencapai solusi dua negara," tuturnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement