Rabu 17 Apr 2024 12:29 WIB

Mualafnya Sang Pendeta Yahudi

Ada seorang pendeta Yahudi paham Taurat memutuskan menjadi mualaf.

Rep: Mabruroh/ Red: Muhammad Hafil
Islam-Yahudi/ilustrasi
Foto: news.yourolivebranch.org
Islam-Yahudi/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,GAZA – Abdulah bin Salam adalah seorang pendeta Yahudi yang tinggal di Madinah di masa kehidupan Rasulullah saw. Sebagai seorang pemimpin agama Yahudi, ia sangat mengetahui betul isi kandungan dalam kitab Taurat, di mana isinya sangat terperinci bahwa kelak akan diutus seorang Nabi terakhir, yakni Nabi Muhammad saw yang akan hijrah ke Madinah.

Di hari awal-awal Nabi sampai di Madinah, Abdullah segera menemui Nabi saw untuk mengetahui secara langsung dan menguji Muhammad bahwa beliau benar-benar seorang Nabi Terakhir yang disebutkan dalam Taurat. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhasil dijawab dengan tegas dan lugas oleh Nabi saw, Abdullah bin Salam akhirnya bersyahadat dan memeluk Islam.

Baca Juga

Namun dia khawatir dengan pengikutnya, karena Abdullah bin Salam mengetahui betul watak dan tabiat umat Yahudi yang suka berkhianat.

Abdullah mengatakan, “‘Ya Rasulullah, kaum yahudi ini kaum pendusta’ yahudi memberikan kesaksian itu sendiri, tentang sifatnya yang suka bohong, ‘maka rahasiakan masuk Islamku ini, tapi panggil mereka semua ya Rasulullah, lalu tanyakan kepada mereka tentang kedudukanku, baru kemudian sampaikan bahwa aku sudah masuk Islam,’” kata Ustadz Khalid Basalamah dalam salah satu ceramahnya.

Setelah itu para pemimpin agama Yahudi dikumpulkan di hadapan Rasulullah di masjid di Madinah, sedangkan Abdullah bersembunyi di balik dinding tipis masjid. Dalam persembunyian itu, Abdullah mendengarkan bagaimana respon umatnya ketika Nabi Muhammad mengajak mereka agar beriman kepada Allah swt.

“Wahai yahudi, bertakwalah kamu kepada Allah, kamu tahu saya utusan Allah,” ujar Nabi Muhammad saw.

Yahudi adalah umat yang paling mengetahui tentang ciri-ciri Nabi Muhammad, laiknya seorang ibu yang langsung mengenali anaknya.  Sebagaimana Allah sebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 146  “allazina aatainahumul-kitaaba ya’rifuunahuu kamaa ya’rifuuna abnaa ahum.”

“Orang-orang yang telah Kami anugerahi Kitab (taurat dan injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.”

Menurut ustadz Khalid Basalamah, Yahudi mengetahui betul bahwa Muhammad adalah seorang Nabi, dan bahwa apa yang dibawa Nabi Muhammad itu benar, karena mereka telah mengenal Nabi Muhammad dari Taurat. Bahkan tiga suku ini, Qainuqa, Nadhir, dan Quroidzoh hijrah ke Madinah karena tahu Madinah adalah tempatnya hijrah Nabi terakhir (Muhammad saw,)

“Mereka tahu betul bahwa ini Nabi muhammad, saking dirincikan betul dalam Taurat, kata Nabi saw, ‘kalian orang yang paling mengenalku, kalian tahu saya utusan Allah, berimanlah,’ tetapi secara serentak mereka mengatakan tidak mau beriman,” kata Ustadz Khalid.

Lalu Nabi saw bertanya, “bagaimana pendapat kalian tentang Abdullah bin Salam?” Mereka mengatakan, ‘Oh dia  ulama kami, dia orang paling saleh di antara kami, dia pemimpin kami, dia tuan kami dan anak tuan kami, maksudnya dia dan ayahnya, dua-duanya terhormat di sisi kami.’

Nabi kembali bertanya, “bagaimana kalau Abdullah bin salam sudah masuk Islam?” mereka menjawab, “tidak mungkin, mustahil.”

Lalu kata Nabi saw, “Abdullah bin Salam keluarlah,” Abdullah tadinya berada di sebelah tembok masjid, lalu masuk dan mengatakan, “Hay yahudi, Asyhadu ‘allailahaillah wa anna Muhammad Rasulullah.”

Mereka dijebak oleh pendeta mereka sendiri yang masuk Islam pada waktu itu. Tetapi apa jawaban mereka? Lagi-lagi mereka, Yahudi, secara serentak menolak dan justru ingkar lagi berdusta.

Dalam hadits imam Bukhari disebutkan, mereka (Yahudi) mengatakan, “Dia (Abdullah bin Salam) adalah orang paling bodoh di antara kami, dia orang paling jahat di antara kami, dan tidak punya kedudukan di mata kami,”

“Begitu spontan mereka berkhianat seperti itu,  ini kondisi yang digambarkan dalam alquran dan juga sunnah Nabi saw,” ujar ustadz Khalid Basalamah.

Menurut Ustadz Khalid, apa yang terjadi saat ini di Palestina dan apa yang dilakukan oleh Yahudi Israel, adalah mencerminkan bagaimana sifat mereka yang tidak pernah berubah, suka membuat kerusakan.

“Terkait kondisi di Palestina saat ini, saudara kita yang sedang dibantai oleh kaum Yahudi, dan telah banyak korban atas kejadian tersebut. Begitulah sifat orang Yahudi suka membuat kerusakan di muka bumi.

“Mereka suka sekali melakukan kerusakan di atas muka bumi, dan Allah tidak mencintai orang-orang yang membuat kerusakan.” (al-Maidah ayat 64).

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement