Sabtu 11 May 2024 22:30 WIB

Silaturahmi yang Mendatangkan Rezeki

Bentuk ikatan silaturahmi yaitu berupa kunjungan dan komunikasi.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Foto ilustrasi silaturahmi virtual.
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Foto ilustrasi silaturahmi virtual.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Islam telah menggarisbawahi pentingnya menjaga hubungan tali silaturahmi. Siapa pun yang berharap mendapatkan tambahan rezeki, doa kebaikan bagi keturunan dan keberkahan dalam kehidupannya, seharusnya memprioritaskan menjaga hubungan baik dengan kerabat dan sesama.

Dalam perspektif Islam, hubungan tali silaturahim bukan hanya sebagai kewajiban sosial, tetapi juga merupakan sarana yang dianugerahkan Allah SWT untuk menambahkan rezeki serta memberikan berkah dalam kehidupan dan keturunan seseorang.

Baca Juga

Lembaga Fatwa Mesir, Dar al-Ifta, menjelaskan, hubungan tali silaturahim memiliki peran yang signifikan dalam mengarahkan seorang Muslim kepada keberkahan dan kelimpahan rezeki. Dengan menjaga dan memperkuat ikatan dengan kerabat serta sesama, seseorang membuka pintu-pintu rahmat dan berkah dari Allah SWT.

Karena itu, dalam praktik kehidupan sehari-hari, penting bagi umat Islam untuk senantiasa memelihara hubungan baik dengan keluarga dan masyarakat di sekitarnya sebagai bagian dari upaya mendapatkan ridha dan berkah dari Sang Pencipta.

Bentuk ikatan silaturahim yaitu berupa kunjungan dan komunikasi. Dalam syariat Islam pun, seorang Muslim harus menjaga hubungan silaturahim dengan kunjungan dan komunikasi telepon.

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, beritahu aku amalan yang bisa membuatku masuk surga." Nabi SAW bersabda, "Kamu beribadah kepada Allah SWT, tidak menyekutukan-Nya, menegakkan sholat, membayar zakat, dan menjalin tali silaturrahim." (HR Bukhari)

Direktur Departemen Fatwa Lisan Dar al-Ifta Mesir, Syekh Uwaidah Utsman memaparkan, ayat-ayat suci Alquran dan hadits Nabi Muhammad SAW menyerukan untuk menjaga tali silaturahim atau hubungan kekerabatan. Dia juga menjelaskan, yang dimaksud 'rahim' yaitu kerabat di pihak pria dan perempuan, baik itu ayah maupun ibu.

"Sedangkan makna 'silah' (hubungan/ikatan) adalah kebaikan kepada kerabat baik dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Ini termasuk mengunjungi mereka, memeriksa kondisi mereka, bertanya kabar mereka, membantu mereka yang membutuhkan, dan memperjuangkan kepentingan mereka," kata dia.

Syekh Utsman juga menekankan, menjaga ikatan kekerabatan atau silaturahim itu diutamakan. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah.

Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam. Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya" (HR Bukhari)

"Tiga hal, yaitu menghormati tamu, menjaga silaturahim, dan mengeluarkan perkataan yang baik, adalah bentuk saling tolong-menolong dan kasih sayang. Rasulullah mengaitkan hal itu dengan keimanan. Jadi, orang yang beriman kepada Allah SWT dan Hari Akhir pastilah ia tidak memutuskan silaturahim (hubungan kekerabatan), karena, ini adalah tanda keimanan seseorang," kata Syekh Utsman.

Sumber

https://www.elbalad.news/5302806

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement