Selasa 06 Jun 2023 16:08 WIB

Cuaca Makkah Panas, Jamaah Haji Diimbau Tidak Memaksakan Diri

Suhu rata-rata di Kota Kelahiran Nabi Muhammad Saw ini berkisar antara 30-45 derajat

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Lida Puspaningtyas
Jamaah haji diimbau untuk mengantisipasi cuaca panas.
Foto: Republika/Agung Sasongko
Jamaah haji diimbau untuk mengantisipasi cuaca panas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cuaca yang panas di Makkah seolah menyambut kedatangan jamaah haji Indonesia di Makkah. Suhu rata-rata di Kota Kelahiran Nabi Muhammad Saw ini berkisar antara 30 – 45 derajat Celsius.

Melihat kondisi ini, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengimbau jamaah agar menjaga kesehatannya. Jamaah juga diminta untuk tidak memaksakan diri dalam menjalankan ibadah sunnah atau program ziarah.

“Cuaca di Makkah sangat panas. Jamaah diimbau menjaga kesehatan, tidak memaksakan diri dalam beribadah sunnah dan laksanakan ibadah haji sesuai kemampuan diri,” kata Ketua PPIH Arab Saudi 1444 H/2023 M, Subhan Cholid, dalam keterangan yang didapat Republika, Selasa (6/6/2023).

Fase kedatangan jamaah haji Indonesia gelombang pertama dari Madinah ke Makkah telah berlangsung sejak 1 Juni 2023. Fase kedatangan jamaah dari Madinah ini akan berlangsung hingga 16 Juni 2023.

 

Sampai dengan 5 Juni 2023 pukul 21:00 waktu Arab Saudi, tercatat ada 22.932 jamaah haji Indonesia yang sudah berada di Makkah. Mereka tergabung dalam 58 kelompok terbang (kloter).

Jamaah haji Indonesia gelombang kedua akan mulai diberangkatkan dari Tanah Air pada 8 Juni 2023. Mereka akan mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah untuk selanjutnya diberangkatkan menuju Makkah Al-Mukarramah.

Untuk fase kedatangan jamaah haji gelombang kedua di Makkah tersebut akan berlangsung mulai tanggal 8 hingga 22 Juni 2023, mendekati waktu puncak haji. Mengingat kondisi di Arab Saudi yang panas, berikut ini imbauan dari PPIH Arab Saudi untuk jamaah haji Indonesia:

a. Tetap menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh;

b. Tidak memaksakan diri untuk melaksanakan ibadah sunnah, ziarah, atau kegiatan lain yang akan menguras tenaga;

c. Beribadah sesuai kemampuan diri sehingga pelaksanaan ibadah haji, terutama pada masa Arafah, Muzdalifah dan Mina dapat berjalan dengan baik dan lancar.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement