Selasa 04 Jul 2023 23:04 WIB

Setelah Jamaah Haji Lempar Jumrah, Ke Mana Batu Kerikilnya?

Jamaah haji melempar kerikil jumrah ke tiga pilar.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Jamaah haji Indonesia melempar Jumrah Wusto di Jamarat, Mina, Selasa (15/10).
Foto: Republika
Jamaah haji Indonesia melempar Jumrah Wusto di Jamarat, Mina, Selasa (15/10).

REPUBLIKA.CO.ID,DUBAI -- Salah satu ritual terpenting dalam pelaksanaan ibadah haji adalah lempar jumrah. Dalam ritual yang dilakukan di Mina ini, jamaah haji melempar kerikil ke tiga pilar, yang melambangkan penolakan terhadap kejahatan.

Di musim haji tahun ini terdapat lebih dari 1,84 juta peziarah yang berpartisipasi. Maka total ada lebih dari 100 juta kerikil yang digunakan dalam ritual tersebut. Lantas ke mana perginya semua kerikil ini setelah ritual selesai?

Baca Juga

Karena lembah Mina dan jamarat kembali kosong setelah haji, jawaban atas pertanyaan terletak pada pengaturan yang cermat dan ilmiah yang dilakukan oleh Pemerintah Saudi.

Ritual lempar jumrah dimulai pada Hari Raya Kurban, 10 Dzulhijjah, saat jamaah melempar kerikil ke salah satu pilar, Jamarat Al Aqaba. Selama dua atau tiga hari berikutnya, yang dikenal sebagai Ayyam Al Tashreeq, mereka melempar tujuh batu ke masing-masing dari tiga pilar.

 

Tiga itu ialah Jamarat Al Sugra (pilar kecil), Jamarat Al Wusta (pilar sedang), dan Jamarat Al Aqaba (pilar terbesar). Setiap peziarah menggunakan total 49 kerikil jika mereka melakukan ritual selama tiga hari, dan 70 kerikil jika mereka tinggal selama empat hari.

Dilansir Gulf News, Selasa (4/7/2023), setelah ritual selesai, kerikil yang dilemparkan ke tiga pilar itu jatuh vertikal ke bawah dan mengendap di ruang bawah tanah fasilitas Jamarat, yang memiliki kedalaman hingga 15 meter.

Dengan menggunakan perangkat conveyor belt, batu-batu kerikil itu dikumpulkan. Kerikil ini menjalani proses penyaringan dan disemprot dengan air untuk menghilangkan debu dan kotoran.

Kerikil yang sudah dibersihkan kemudian dipindahkan ke kendaraan dan dibawa ke area tertentu untuk disimpan, di mana kerikil tersebut dikelola lebih lanjut setelah akhir musim haji.

Asosiasi Amal Hadiah Haji & Mu'tamer yang berbasis di Makkah, bekerja sama dengan Perusahaan Kedana, memainkan peran penting dalam melayani para peziarah.

Tahun lalu, organisasi tersebut memasok lebih dari 80 ribu kantong batu kerikil untuk pelemparan batu dan mendistribusikannya di lebih dari 300 titik kontak jamaah di Muzdalifah, selain fasilitas Jembatan Jamarat di Mina.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement