Rabu 25 Oct 2023 23:02 WIB

Masih Banyak Jamaah Haji Ingin Wafat di Tanah Suci, Kemenag: Perlu Sosialisasi Masif

Banyak jamaah haji ingin meninggal di Tanah Suci.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
 Banyak jamaah haji ingin meninggal di Tanah Suci. Foto:  Pemakaman Jannatul Mala di Makkah.
Foto: dok. Tim MCH
Banyak jamaah haji ingin meninggal di Tanah Suci. Foto: Pemakaman Jannatul Mala di Makkah.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Bagi Muslim yang melaksanakan ibadah haji, meninggal dunia di Tanah Suci dianggap sebagai kemuliaan. Karena itu, tidak sedikit yang meski dalam kondisi tetap mengupayakan diri berangkat dan menjalankan ibadah tersebut.

Mengingat hal tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) mengajak seluruh satuan kerja di provinsi dan kabupaten/kota, ormas keagamaan Islam, hingga stakeholder lainnya berperan aktif melakukan sosialisasi untuk mengubah cara pandang atau mindset tersebut. Utamanya tentang istitha'ah kesehatan secara massif kepada calon jamaah haji.

Baca Juga

Ajakan ini disampaikan Direktur Bina Haji pada Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU), Arsad Hidayat, dalam forum Mudzakarah Perhajian Indonesia Tahun 2023. Kegiatan tersebut mengusung tema Penguatan Isthithaah Kesehatan Jamaah Haji yang digelar di Sleman, Yogyakarta.

"Jamaah harus mengubah cara pandang yang menginginkan untuk meninggal di Tanah Suci. Sebagai Muslim, tidak dipungkiri ada kemuliaan bagi mereka yang wafat di Tanah Suci," ujar dia dalam keterangan yang didapat Republika.co.id, Rabu (25/10/2023).

Meski demikian, ia menyebut terkadang hal ini juga menjadi salah satu alasan calon jamaah haji yang tidak memenuhi syarat istitha'ah kesehatan tetap bersikeras ingin berangkat.

Jamaah haji diminta berpikir positif, bahwa mereka akan menjalankan ibadah haji dengan penuh kenikmatan jika dalam kondisi sehat. Setiap momen ketika berada di rumah Allah akan bisa dinikmati dengan baik.

"Nikmati setiap rangkaian ibadah yang dilakukan. Dan tanamkan bahwa kenikmatan ibadah itu bisa dicapai dengan raga yang sehat, yang sesuai dengan kriteria istitha'ah kesehatan," lanjut dia.

Arsad pun mengajak semua pihak untuk ikut mengubah cara pandang terkait keinginan untuk meninggal di Tanah Suci dengan sosialisasi yang dilakukan secara masif. Hal ini penting demi penyelenggaraan haji tahun tahun 2024 yang lebih baik lagi.

"Kami juga akan sosialisasikan istitha'ah kesehatan melalui program manasik haji dan platform media sosial Kementerian Agama. Dukungan dari peserta Mudzakarah Perhajian Indonesia Tahun 2023 juga kami harapkan dalam ikut secara masif menyosialisasikan Istithaah kesehatan Jemaah Haji," kata Arsad.

Ia menambahkan, ada sejumlah tantangan dalam penyelenggaraan haji 2024. Salah satunya adalah kuota haji yang kembali normal sebanyak 221.000, tambahan kuota sebanyak 20.000 jamaah, serta tidak ada pembatasan umur bagi jamaah haji yang berangkat.

Selain itu, jumlah jamaah lanjut usia (lansia) yang akan berangkat nantinya juga menjadi tantangan. Jumlah jamaah dalam kategori ini disebut sebanyak 45.000 orang atau 20 persen dari total jamaah.

"Begitu juga dengan target mempertahankan Indeks Kepuasan Jemaah Haji yang sangat tinggi. Infrastruktur di Armina tidak banyak mengalami perubahan, digitalisasi dalam berbagai pelayanan, hingga berhaji di musim panas," ucap dia.

Keberangkatan awal Jemaah Haji ke Tanah Suci diperkirakan pada minggu kedua Mei 2024. Sementara untuk pelaksanaan Bimbingan Manasik Haji rencananya akan dilaksanakan sebelum Ramadhan 1445H/2024.

Kegiatan Mudzakarah Perhajian Indonesia Tahun 2023 rencananya digelar pada 23 hingga 25 Oktober. Nantinya, acara tersebut akan menghasilkan rekomendasi dalam penguatan Istitha'ah Kesehatan Jemaah Haji untuk penyelenggaraan haji tahun 2024. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement