Sabtu 09 Sep 2023 15:43 WIB

Gelar Evaluasi Haji 2023, Ini 9 Catatan Penyelenggaraan dari Menteri Agama

Penyelenggaraan haji 2024 diharapkan akan lebih baik lagi

Rep: Zahrotul Oktaviani / Red: Nashih Nashrullah
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas saat pembukaan Rakernas Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1444 H/ 2023 M di Bandung, Rabu (6/9/2023) malam.
Foto: Dok Kemenag
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas saat pembukaan Rakernas Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1444 H/ 2023 M di Bandung, Rabu (6/9/2023) malam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –  Kementerian Agama (Kemenag) saat ini tengah menggelar agenda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1444H/2023M. Dalam sambutannya, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan 9 catatan yang menjadi fokus perbaikan layanan haji ke depan. 

Catatan pertama dari Gus Men, sapaan akrabnya, adalah pelayanan jemaah saat di Masyair atau Arafah, Muzdalifah dan Mina. Meski hal ini memang tidak terkait langsung dengan petugas, tetapi ia menyebut masih merupakan tanggung jawab pemerintah.

Baca Juga

“Menurut saya berbeda tapi masih berhubungan, sehingga kita juga tidak boleh lepas tangan begitu saja atas terjadinya beberapa peristiwa yang kurang mengenakkan di Arafah Muzdalifah dan Mina," kata dia dalam keterangan yang didapat Republika.co.id, Jumat (8/92023).

Ia memaparkan sejumlah kekurangan saat puncak haji tersebut. Di antaranya adalah toilet yang tidak memadai di Mina, serta jamaah haji terlambat untuk dibawa ke Mina dari Muzdalifah. Peristiwa-peristiwa ini disebut bisa menjadi catatan, serta perlu segera dikoordinasikan dan diperbaiki.

 

Terkait kondisi itu, ia pun secara pribadi telah berkomunikasi dengan Menteri Haji dan umrah Arab Saudi Tawfig F. Arabiyah, maupun dengan Duta Besar Arab Saudi di Indonesia. Harapannya, agar ada perbaikan pelayanan jamaah haji pada musim haji tahun depan.

Catatan berikutnya yang ia sampaikan terkait jumlah jamaah haji lanjut usia (lansia), yang kemungkinan masih akan berlanjut di tahun depan. Menurutnya, jamaah haji lansia di atas 65 tahun masih ada dengan jumlah berkisar 40.000 lebih.

Dengan berbagai pengalaman yang dimiliki petugas, ia mengharapkan pemberian layanan kepada jamaah lansia ini bisa dipertahankan. “Mudah-mudahan (layanan) jamaah haji lansia ini bisa kita perbaiki di masa yang akan datang,” ucap dia.

Terkait hal itu, Gus Men lantas mengapresiasi peran dan kerja keras para petugas haji. Kesuksesan dan keberhasilan pelaksanaan ibadah tahun ini tidak terlepas dari kerja keras para petugas haji, yang memberikan pelayanan kepada jamaah. 

Ucapan terima kasih pun ia sampaikan kepada para petugas, yang memberikan pelayanan secara maksimal. Ia mengaku seringkali melihat hal-hal di luar nalar dan akal sehat, bagaimana petugas benar-benar berperan bukan hanya sebagai petugas tetapi juga seringkali menjadi anak dan cucu, dalam konteks memberikan pelayanan.

Dirinya hanya bisa mendoakan semoga yang dikerjakan oleh para petugas dicatat sebagai amal sholeh “Dan saya yakin itu akan dicatat sebagai amal sholeh,” ujar Gus Men.

Baca juga: Bagaimana Laut Merah Bisa Terbelah oleh Tongkat Nabi Musa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Catatan keempat dari Menag adalah mengantisipasi kebijakan yang diambil oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi untuk pelaksanaan haji tahun depan. Ia menyebut usaha dari Kemenag jangan berhenti pada evaluasi saja.

"Karena kalau hanya evaluasi saja sebagaimana tadi disampaikan, ini akan berefek kepada pelayanan jamaah,” kata dia.

Selanjutnya, ia menyebut ada beberapa kebijakan dari Arab Saudi yang seringkali bisa berdampak pada kebijakan persiapan penyelenggaraan ibadah haji. Sebagai contoh adalah pengiriman zamzam.

Gusmen pun meminta Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief untuk selalu berkomunikasi dengan Kementerian Haji dan Umrah Aran Saudi.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement