Rabu 11 Sep 2013 12:17 WIB

Muslim Kedua di Jepang Naik Haji, Ini Catatan Hariannya (2)

Kapal terhempas badai (ilustrasi).
Foto: Blogspot.com
Kapal terhempas badai (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Seorang Muslim asal Jepang, Tanaka Ibe melakukan haji pada tahun 1923. Catatan hariannya diterbitkan oleh Majalah Sky Shishi Kai sepuluh tahun kemudian. Dia catatan itu, dia bercerita tentang perjuangan berlayar menuju Jeddah. 

"Perjalanan ke Makkah memiliki sejarah yang begitu panjang dan telah berlangsung lama, bahkan jauh sebelum sarana transportasi seperti saat ini ada.

Dulu, jamaah haji Shanghai, Cina atau daerah-daerah lain di Asia Tengah berangkat haji melalui jalur darat. Melalui Irak, Palestina, dan Madinah. Namun saat ini, kami melakukan perjalanan haji melalui laut, melintasi Singapura dan Bombay. Begitu pula dengan sebagian besar jemaah haji Asia, mereka mengarungi Samudra Hindia. 

Kapal ini akan membawa kami menuju Jeddah. Bentuknya sangat besar layaknya kapal kargo. Para awak kapal mengatakan bahwa setiap penumpang hanya mendapat tempat seluas 2 meter dan  70 sentimeter di atas kapal tersebut, tidak lebih. Kami membeli tiket kapal untuk perjalanan pergi dan pulang pada waktu bersamaan.

Awak kapal sengaja menaikkan penumpang sebanyak-banyaknya meski melibihi kapasitas. Bahkan, seolah tidak ada batas kapasitas tertentu untuk kapal tersebut.

Kapal aku naiki itu bernama Cayman. Beratnya sekitar 7.000 ton. Kapal ini disesaki oleh 3.200 penumpang yang harus berdesak-desakan hingga di atap. Aku sendiri mendapat tempat di geladak paling bawah.

Disana, aku menggelar sajadah sebagai tanda bahwa tempat itu sudah ada yang menempati. Saat naik, penumpang saing berebut sejak pukul 05.00 pagi hingga 17.00 sore. Dua belas jam kemudian, kapal baru bergerak meninggalkan dermaga. 

Kami berangkat di musim hujan sehingga kami kedinginan selama perjalanan. Kapal yang kami tumpangi terombang-ambing di laut. Ombak tinggi terus menghantam badan kapal hingga membuat kami ketakutan. Kami juga harus memasak untuk makan dengan jatah air tawar yang sangat terbatas dan kayu bakar seadanya. 

Setelah melewati Samudra Hindia, kapal mengarungi Laut Arab, lalu Laut Merah. Di Laut Merah, cuaca juga tidak bersahabat. Hujan terus mengguyur dan hawa dingin menyengat. Meski begitu, kami selalu melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Begitulah keadaan kami setiap hari selama dalam perjalanan. Namun, semua terasa ringan dan waktu berlalu begitu cepat. 

Di suatu pulau bernama Kamaran, di Laut Merah, kami diturunkan satu per satu sambil membawa barang bawaan kami untuk diperiksa, demi memastikan tidak ada penumpang yang akan menularkan penyakit. Pemeriksaan itu berlangsung sepekan. Kami beruntung karena dalam dua hari, pemeriksaan sudah selesai. Kami pun kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanan menuju Jeddah.

Saat Jeddah sudah terlihat, kami segera bersiap-siap untuk turun dari kapal. Setelah turun, lagi-lagi kami harus melewati pemeriksaan. Namun, pemeriksaan kali ini terkait barang yang kami bawa, termasuk dokumen perjalanan.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan sangat detail dan teliti. Kemudian sesuai dengan ajaran Islam tentang pelaksanaan ibadah haji, kami mulai mengganti pakaian dengan pakaian ihram berupa dua helai kain putih. "

 

sumber : Atlas Haji dan Umrah
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement