REPUBLIKA.CO.ID, Sejak pagi, 450 jamaah calon haji (calhaj) kloter 13 sudah tiba dan berkumpul di Gedung Serbaguna 1 Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (18/9). Padahal, seharusnya mereka baru masuk asrama pukul 15.00 WIB.
Akibatnya, jamaah calhaj pun terpaksa tak mendapat jatah makan siang akibat kedatangan terlalu cepat. Kendati demikian, persoalan ini tak membuat Zainal Abidin (63 tahun), salah seorang jamaah calhaj asal Menteng, mengeluh. Tak tampak raut kekesalan atau protes dari wajahnya.
Ketika disambangi Republika pun, ia hanya tersenyum ramah. Baginya kebahagiaan bisa berangkat haji sudah mengalahkan seluruh rasa kesal itu. Apalagi, hanya karena sebatas persoalan kecil.
“Saya ini kuli, Dek. Setiap hari saya mengumpulkan setetes demi setetes keringat saya. Saya tabung untuk berangkat haji,” kisahnya kepada Republika.
Ketika mendapat kabar akan berangkat haji tahun ini, kebahagiaan luar biasa menyelimuti seluruh perasaannya. Setiap hari setiap berangkat nguli, ia selalu tersenyum.
Teman-teman seprofesinya pun heran dan menanyakan, apa yang membuatnya begitu sumringah setiap hari. Ia menuturkan, sebentar lagi akan berangkat ke Tanah Suci. Keinginan yang sudah lama ia pendam.
Abidin bukan pegawai kantoran yang memiliki penghasilan tetap. Sebagai seorang kuli bangunan, ia sangat tergantung dari permintaan kontraktor ataupun pemborong.
Ketika ada kabar pemotongan kuota haji sebanyak 20 persen dari Pemerintah Arab Saudi, pria berkulit legam ini pun harap-harap cemas. Jangan-jangan ia termasuk yang batal berangkat.
Abidin terus memanjatkan doa dan bertahajud agar ia bisa jua berangkat haji tahun ini. Syukurlah, Allah SWT mengabulkan doanya.
“Saya sudah tiga kali bermimpi berangkat haji. Yang paling nyata itu ketika 10 tahun yang lalu. Seakan-akan saya benar-benar sedang haji. Namun, selepas melontar jumrah, saya terbangun,” katanya berkisah.
Sejak 10 tahun silam, ia terus mengirit pengeluarannya dan menyisihkan uang lebih banyak untuk ongkos berangkat haji. Lima tahun berlalu, namun tabungan hasil nguli yang berhasil dikumpulkan ternyata tidaklah seberapa.
“Ketika itu, bantuan Allah datang. Keluarga saya bagi warisan tanah. Memang tak seberapa, tapi saya langsung pakai buat uang muka berangkat haji,” ujarnya.
Ia bahagia luar biasa karena telah terdaftar sebagai jamaah calhaj. Zainal pun tak menyangka dalam kurun lima tahun kemudian ia bisa berangkat haji.
“Akhirnya, saya bisa berangkat haji, sendiri. Istri dan anak-anak tinggal di rumah,” ujarnya. Setetes air mata yang berada di ujung mata mengisyaratkan perjuangan yang dilaluinya begitu berat untuk memenuhi panggilan Allah SWT.




