Asal Usul Nama Padang Arafah (2)

Sabtu , 01 Nov 2014, 13:59 WIB Reporter :Hannan Putra/ Redaktur : Chairul Akhmad
Jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah.
Jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah.

REPUBLIKA.CO.ID, Pada suatu petang ketika tengah tidur, Ibrahim melihat dalam mimpinya ia sedang menyembelih putranya, Ismail.

 

Terkait

Sungguh ini merupakan masalah yang amat besar, yang sulit dibayangkan dampaknya bagi jiwa sang bapak terhadap anaknya. Apalagi Ismail adalah anaknya yang cuma semata wayang.

Sungguh perkara yang amat sulit dan berat bila dia harus menyembelih anak satu-satunya itu dengan kedua tangannya sendiri. Karena itulah setelah bermimpi, Ibrahim duduk merenungi pikirannya dengan cermat.

Karena itu Hari Arafah dinamakan pula hari tarwiyah (renungan). Setelah ia yakin bahwa mimpinya benar dan ia harus menyembelih putranya, maka ia menamakan tempat mengetahui hakikat mimpinya itu dengan Arafah.

Ada pula kisah yang mengatakan bahwa Ibrahim AS diberitahu Jibril cara menunaikan manasik haji di tempat ini. Jibril bertanya, “Hal Arafta (tahukah kau)?”

Ibrahim menjawab, “Araftu (aku mengetahuinya).” Dengan demikian, bisa jadi ini berarti bahwa di tempat itu manusia mengenali Rabbnya, dan manusia datang ke tempat itu untuk mengakui dosanya serta untuk memohon ampunan Rabbnya dengan penuh kerendahan.

Walhasil, apa pun asal-muasal penamaan tempat itu Arafah dan kegiatan ibadah pada hari itu dengan Hari Arafah atau Hari Tarwiyah, tapi yang tidak diragukan hari itu merupakan hari yang mulia, yang dibanggakan Allah SWT kepada para hamba-Nya.

Ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya: “Lihatlah kepada hamba-hamba-Ku itu. Mereka telah meninggalkan semua yang dimilikinya dan mendatangi-Ku dengan kusut dan berdebu, memohon ampunan dan rahmat-Ku. Aku bersaksi dengan kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka…”

Di Arafah kita melihat persamaan yang merata dan keberadaan yang utuh bagi para jamaah haji yang datang ke Baitullah Al-Haram. Tidak seorang pun yang tersisa. Dalam waktu yang sama, mereka mengakhiri wukuf bersamaan dengan terbenamnya matahari di Hari Arafah. Tempat ini merupakan satu-satunya tempat berkumpul manusia dalam keadaan seperti itu dan dalam waktu seperti itu pula.

Kita memasuki Kota Makkah dalam rombongan dan waktu yang berbeda, sesuai dengan kesepakatan rombongan masing-masing. Ada yang masuk dua pekan sebelum haji, ada pula rombongan yang datang satu hari sebelum haji.

Pada waktu pulang pun masing-masing rombongan menetapkan waktunya sendiri, sesuai dengan kesepakatan rombongan. Yang tinggal di Makkah pun berbeda-beda juga sesuai dengan kemampuannya.

Ada yang tinggal di hotel mewah, dan ada pula yang tinggal di gubuk yang murah. Bahkan ada juga yang tidur beralas pasir, sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini