REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Suhu udara di Kota Madinah, Arab Saudi, kini berkisar antara 35 hingga 47 derajat Celcius. Pada pagi dan malam hari, suhu hangat melingkupi seluruh Kota Madinah.
Biasanya, suhu berkisar di angka 35 derajat Celcius. Panas amat terik terjadi tepat siang hari atau menjelang shalat Dzuhur sampai Ashar.
Dengan kondisi suhu yang panas ini, jamaah Indonesia yang terbiasa mengalami suhu tropis dengan panas maksimal 34 derajat Celcius, suhu di Madinah berpotensi mendatangkan masalah tersendiri.
“Jamaah akan terancam heat stroke atau serangan panas yang berujung pada dehidrasi,” kata Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja Jeddah, Purwakaning Purnomo Agung di Madinah, Arab Saudi, Jumat (21/8).
Jamaah haji asal Tanah Air akan mulai berdatangan di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Azis (AMAA) Madinah Jumat (21/8). Kloter pertama berasal dari Kloter UPG I Makassar, Sulawesi Selatan.
Agung mengingatkan para calon jamaah haji Indonesia, begitu tiba di Madinah, hendaknya langsung mengonsumsi banyak air putih agar terhindar dari dehidrasi. “Biar tidak terkena heat stroke, jamaah harus banyak minum air putih dan makan buah-buahan,” katanya.
Selain itu, jamaah juga diharapkan bisa menjaga kesehatan pribadi dan menghindari aktivitas di siang hari. Aktivitas jamaah hendaknya hanya berkonsentrasi pada kegiatan ibadah berupa shalat Arbain atau shalat wajib 40 waktu di Masjid Nabawi.
Di luar itu, jamaah disarankan agar beristirahat di penginapan atau membaca Alquran dan berdzikir di Masjid Nabawi. Kalaupun terpaksa beraktivitas di bawah sinar matahari langsung, sebaiknya mengenakan payung.
“Kurangi kegiatan belanja agar stamina bisa terjaga, banyak istirahat, karena waktu di Madinah cuma sembilan hari,” kata Agung mengingatkan.
Menurut Agung, heat stroke sangat berbahaya bagi jamaah. Dehidrasi akibat udara panas akan menggangu sistem dan fungsi organ tubuh yang bisa berujung pada hilangnya kesadaran bahkan kematian. Karena itu, Agung meminta seluruh jamaah tidak menyepelekan serangan panas ini.




