Ahad 21 Aug 2016 06:43 WIB

Hajinya Cicit Pangeran Rangsang

Rapat Sarekat Islam di Kaliwungu, Jawa Tengah.
Foto: Wikipedia.org/ca
Rapat Sarekat Islam di Kaliwungu, Jawa Tengah.

Muhsarno begitu terharu ketika turun dari bus setibanya di Makkah. Matanya sembap karena menangis. Dia tak banyak bicara. Impian melihat tawaf dan shalat di dekat Ka'bah sebentar lagi akan terwujud. Dan, setelah usai prosesi haji, namanya pun akan segera bertambah satu huruf lagi, yakni 'h' atau Haji Muhsarno.

"Kulo sakmeniko sampun Islam, Mas? (Saya sekarang sudah Islam, Mas?)'' katanya. Bagi dia 'menjadi' Islam melalui proses naik haji ini jelas merupakan jalan yang terjal dan berliku. Dia tak begitu bagus membaca Alquran. Cara bacanya di luar gaya qiraatul sab'i (qiraat tujuh), yakni gaya pengucapan orang Jawa yang lazim tetap tak bisa sempurna bila harus mengucapkan 'qaf', 'kha', dan 'ain' itu.

Frase 'sampun Islam' itulah yang menjadi beban sekaligus rahmat hari-hari terakhir ini. Untuk mencapainya juga berharga mahal karena istrinya yang selama puluhan tahun mendampinginya keburu meninggal dunia beberapa bulan silam sebelum masa keberangkatan haji tiba. Padahal, waktu itu 'tiket' bersama naik haji sudah dipesan untuk berdua.

Apakah tantangan seberat itu yang harus dipikul seorang Jawa seperti Muhsarno ketika naik haji? Jawabnya, ya memang seperti begitulah. Selaku anggota keluarga priayi Jawa, menjadi 'haji' tidaklah semudah membalikkan tangan atau bahkan jauh lebih berat daripada kerja penelitian untuk menulis desertasi sekelas antropolog Cilfford Geertz yang pada awal 1950 menulis mengenai kaum abangan, priayi, dan santri di Mojokerto itu.

"Leluhur kami menanamkan tak perlu naik haji. Pesan leluhur orang Jawa itu hanya butuh 'kiai buto' (kiai raksasa) yang kuat luar dalam. Paham ngelmu dan punya harta cukup. Gusti Allah tak perlu dicari sampai ke Makkah karena Dia bersemayam dalam hati,'' tutur Muhsarno sembari mengutip penggalan tembang dalam kitab klasik Jawa Wulang Reh yang mengatakan agama itu hanya sekadar baju: Agama agemaning aji.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement