IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama membekali Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1439 Hijriyah/ 2018 Masehi dengan manajemen krisis. Ini untuk mengantisipasi berbagai persoalan dalam penyelenggaraan haji.
"Contoh saat insiden crane, saya menolak disebut musibah, karena sejak awal saya sudah merasa aneh jika crane masih terus beroperasi di saat jamaah sudah mulai memadati Masjidil Haram," kata Staf Khusus Menteri Agama, Hadi Rahman, di dalam pembekalan PPIH di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (2/6).
Dia mengatakan manajemen krisis sangat penting karena peristiwa pada umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Biasanya, kata dia, telah ada beberapa indikasi yang dapat dicermati dan dipelajari sehingga dengan manajemen krisis dapat diantisipasi.
Krisis, lanjut dia, juga bukan merupakan faktor eksternal tetapi internal. Dengan penguatan manajemen krisis dari dalam, maka akan siap dengan segala kejadian.
Dia mencontohkan kasus meninggalnya jamaah di Mina saat jumrah terjadi bukan karena tiba-tiba. Akan tetapi, ada ketidaktaatan terhadap jadwal lempar jumrah.
"Salah satu faktornya karena adanya pelanggaran jadwal dan jalur perjalanan yang sudah diatur sebelumnya," kata dia.
Dengan berbagai gejala yang ada, Hadi mengatakan perlu ada strategi di awal agar tidak terjadi krisis. "Yang terpenting bagi petugas harus mampu menempatkan diri sebagai teman bagi jamaah dan ini adalah hakikat manajemen krisis sesungguhnya," kata dia.