Kamis 26 Jul 2018 23:07 WIB

Pembangunan Hotel Saudi Tingkatkan Pelayanan Haji

Bila dibandingkan kondisi satu dekade lalu, Makkah kini sudah berkembang pesat.

Jamaah haji kloter 67 asal Semarang menunggu bus di depan Hotel Al Lulua, Sektor 5, Syisyah, Makkah yang akan membawa mereka ke Arafah, Rabu pagi (30/8).
Foto: Republika/Ani Nursalikah
Jamaah haji kloter 67 asal Semarang menunggu bus di depan Hotel Al Lulua, Sektor 5, Syisyah, Makkah yang akan membawa mereka ke Arafah, Rabu pagi (30/8).

Laporan wartawan Republika.co.id, Erdy Nasrul dari Makkah

IHRAM.CO.ID, MAKKAH -- Pembangunan infrastruktur di Kota Suci marak berlangsung. Hotel berbintang tiga dan empat di sekitar Masjid Suci semakin mudah ditemukan. Jamaah haji dan umrah banyak menginap di sana.

 

Pada sore hingga pagi hari mereka berjalan kaki untuk beribadah di al-Haram. Mereka yang menginap di hotel berjarak lebih dari satu kilometer memanfaatkan transportasi umum untuk mencapai baitullah.

 

 

Kepala daerah Kerja Makkah Dr Endang Jumali mengatakan ada ratusan hotel di sekitar Masjidil Haram. Jaraknya beragam, mulai ratusan meter hingga belasan kilometer. Fasilitasnya sangat layak. Tamu Allah dapat beristirahat di ranjang yang empuk berbalut seprei dan selimut.

 

Ada kulkas dan kotak penyimpanan khusus. Toilet juga sangat nyaman. Di dalamnya terdapat kloset duduk, penyiram, dan wastafel. “Berbintang empat, tapi tidak ada kolam renang,” kata Endang.

 

Orang-orang yang memasuki Kota Suci adalah mereka yang ingin berwisata religius. Di sana mereka menghabiskan waktu untuk melepas kerinduan kepada Sang Pencipta. Objek wisata yang dikunjungi adalah Masjidin Haram dan situs bersejarah sekitar Makkah.

 

Bila dibandingkan kondisi satu dekade lalu, Makkah kini sudah berkembang pesat. Masjidil Haram sudah mengalami perluasan. Tak kurang dari satu juta orang dapat ditampung di tempat sujud tersebut. Di sekitarnya terdapat kawasan perbelanjaan yang memanjakan jamaah. Mereka dapat menikmati aneka kuliner dan berbelanja di sana.

Endang mengatakan, pembangunan itu tidak lepas dari kebijakan Kerajaan Saudi berupa Visi Saudi 2030. Ini adalah rencana untuk mengurangi ketergantungan Arab Saudi pada sektor minyak bumi, mendiversifikasi ekonomi.

 

Rencana ini juga mengembangkan sektor layanan umum seperti kesehatan, pendidikan, infrastruktur, rekreasi dan pariwisata. Semua itu dimaksudkan untuk meningkatkan dan mengembangkan perekonomian.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement