Cerita Nenek Sumiati, Jamaah Haji Tertua Embarkasi Surabaya

Rabu , 24 Jul 2019, 13:32 WIB Reporter :Dadang Kurnia/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Nenek Sumiati (107) jamaah haji tertua di Embarkasi Surabaya
Nenek Sumiati (107) jamaah haji tertua di Embarkasi Surabaya

IHRAM.CO.ID, SURABAYA – Syukur tak henti-hentinya diucapkan Nenek Sumiati, warga Dusun Bakalan, Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (Ahes) Rabu (23/7) sore.

 

Bagaimana tidak? Impiannya untuk pergi berhaji, terlaksana, meski harus menunggu hingga usianya menyentuh angka 107 tahun. Sejauh ini, dia tercatat sebagai jamaah haji tertua di Embarkasi Surabaya yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 53. 

Terkait

Nenek Sumiati berulang-ulang menyampaikan, menjalankan ibadah haji merupakan impiannya sejak lama. Keinginan tersebut sempat terganjal karena belum memiliki kecukupan uang untuk membayar ongkos haji. Namun demikian, Nenek Sumiati tak pernah berhenti berdoa, agar di sisa usianya diberi kesempatan berkunjung ke Baitullah, Makkah. 

Baca Juga

Doa Nenek Sumiati terjawab ketika dua dari tiga anaknya yang masih hidup, berinisiatif patungan membiayai BPIH sang ibu pada 2016. Kemudahan semakin terasa ketika Nenek Sumiati bisa mendaftar melalui program percepatan usia lanjut, sehingga waktu tunggunya tidak terlalu lama.

Saat ditemui di Embarkasi Surabaya, kondisi Sumiati tampak sehat meskipun usianya sudah lebih dari satu abad. Suaranya pun masih terdengar jelas, meski lebih pelan. Indera pendengaran dan penglihatannya juga masih normal tanpa menggunakan alat bantu. Nenek Sumiati juga masih mampu berjalan sendiri meskipun sangat pelan.

Nenek Sumiati bersyukur, meski di usianya yang sudah sangat tua, dia masih diberi kesehatan. Nenek Sumiati tidak tahu persis resep apa yang membuatnya tetap sehat meski sudah tidak muda lagi. 

photo

Nenek Sumiati (107) jamaah haji tertua di Embarkasi Surabaya

Nenek Sumiati mengungkapkan, dirinya hanya terbiasa memakan sayur-sayuran dan minum air putih. "Saya makannya kulupan (sayuran) dari hasil kebun sendiri. Minumnya selalu air putih. Alhamdulillah selama ini saya hampir tidak pernah sakit,” tutur nenek yang masih rutin menjalankan puasa Senin Kamis tersebut.

Selain itu, tambah nenek kelahiran 1 Juni 1912 tersebut, dia juga rutin bangun dini hari, atau sekitar pukul 03.00 WIB, untuk mandi dan selanjutnya menunaikan shalat tahajud. Nenek Sumiati mengaku, ritual tersebut rutin dijalaninya sejak masih ber usia 30 tahun. 

“Alhamdulillah, setiap hari saya bangun jam tiga pagi, lalu mandi. Setelah itu shalat tahajud, sekalian nunggu shubuh," ujar Nenek Sumiati. Dia juga meyakini, kesehatan yang diperolehnya tidak lepas dari sikap sabar, dan ikhlas dalam menjalani hidup, serta rajin berdoa.  

Nenek Sumiati menyatakan, di usianya saat ini sudah tak memiliki keinginan hidup yang muluk-muluk. Ketika berhaji nanti, dia hanya ingin berdoa agar diberikan keselamatan hidup, anak yang saleh salehah, serta meninggal dunia dalam keadaan khusnul khotimah.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini