IHRAM.CO.ID, MADINAH— Operasional penyelenggaraan haji Indonesia pada tahun 2019/1440 akan berakhir pada Ahad, 15 September 2019. Daerah Kerja Bandara PPIH Arab Saudi mencatat sejumlah masukan penting terkait proses kedatangan dan kepulangan jamaah haji.
Kepala Daker Bandara Jeddah-Madinah, Arsyad Hidayat, yang jelas pertama, kata dia, berkaitan dengan fast track. Fast track kan sudah cukup bagus, cukup baik membantu jamaah pada saat tiba di Tanah Suci dan tidak lagi berlama-lama melakukan proses imigrasi.
"Harapannya kita bisa ditingkatkan jumlahnya, jamaah tidak hanya dari embarkasi JKG dan JKS tapi juga di embarkasi-embarkasi lainnya," ungkapnya.
Kedua, lanjut dia, berkaitan dengan proses bea cukai. Seandainya memungkinkan, kata Arsyad, bea cuma juga melakukan hal yang sama seperti halnya Imigrasi.
Artinya, jelas dia, mereka juga bisa melakukan pengecekan barang-barang ketika di Tanah Air, sehingga hal ini menjadi salah satu terobosan bagi pemerintah Arab Saudi.
Maksudnya, kata Arsyad, kalau pun ada jamaah yang membawa barang yang tidak boleh dibawa semenjak dari Tanah Air, barang tersebut bisa bisa ditahan. Jadi tidak lagi ketika sampai Arab Saudi mereka ditahan, kemudian ditanya akhirnya membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Kemudian yang lainnya, saya kira kalau pelayanan di Arafah itu, Armina ya fasilitas di Mina, kalau bisa ke depan bisa ditingkatkan lagi. Karena titik krusial pelayanan di Masyair adalah pelayanan di Mina. Baik infrastruktur, atau pun terkait dengan lain-lainnya."
Arsyad berharap, tenda-tenda di Mina bisa dijadikan tenda bertingkat atau mungkin akan dijadikan bangunan seperti bangunan di sebelah Jamarat, prototipenya yang ada enam gedung tersebut. "Saya kira ini akan membantu jamaah, mereka akan lebih nyaman lagi tinggal di Mina, sehingga jamaah bisa lebih khusuk, lebih dalam ibadahnya," ujarnya.