Yang Cemas Menunggu Masjidil Haram Dibuka Lagi

Jumat , 06 Mar 2020, 14:03 WIB Reporter :Fitriyan Zamzami/ Redaktur : Agus Yulianto
Tak ada keramaian di sekeliling Ka
Tak ada keramaian di sekeliling Ka

REPUBLIKA.CO.ID, Buat jamaah haji dan umrah dari manapun, Gua Hira di Makkah adalah salah satu destinasi wajib kunjung di Tanah Suci. Bagaimana tidak, di lokasi yang terletak di atas bukit itulah Rasulullah SAW menerima wahyu pertama dari Allah SWT yang diantarkan malaikat Jibril.

 

Terkait

Biasanya, jamaah memanjat bukit itu pada dini hari menjelang Subuh atau selepas Ashar. Pada waktu-waktu itu, cuaca di Makkah tak sebegitu terik dan pendakian bisa sedikit lebih tak melelahkan.

Dengan alasan itu, pada Kamis (5/4) petang, Royhan Firdausy beserta rombongan jamaah dari Pesantren Walisongo, Situbondo, menyambangi Jabal Nur, tempat Gua Hira berlokasi. Lepas menyaksikan dengan mata kepala sendiri lokasi Rasulullah biasa beriktikaf dan kemudian menerima wahyu, mereka turun pada malam hari.

Rencananya, rombongan itu bakal menuju Masjidil Haram untuk melakukan shalat. Namun, kabar mengejutkan sudah datang sejak sore hari. Masjidil Haram tak bisa dimasuki. "Jadi tidak langsung ke masjid. Karena sudah pasti tidak bisa masuk. Akhirnya kami shalat di hotel," ujar Royhan saat dihubungi Republika, Jumat (6/3).

Rombongan dari Pesantren Walisongo yang berada di Tanah Suci tersebut totalnya kurang lebih 650 orang. Sebelum ke Makkah, mereka sudah di Madinah sejak akhir Februari lalu. Beberapa hari sebelum Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan larangan ketibaan jamaah umrah dari luar negeri guna menangkal merebaknya Covid-19.

Di Makkah, mereka menginap di Hotel Zwar al-Bayt. Royhan merupakan ketua rombongan bus 12 yang beranggotakan 54 jamaah.

Pada Kamis (5/3), ia sempat membawa empat jamaah melaksanakan umrah di Masjidil Haram. Melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah, kemudian melakukan sa'i di bukit Safa dan Marwah, lalu bertahalul. Rangkaian itu diselesaikan Royhan dan empat jamaah sekitar pukul 13.00 waktu setempat.

Dari situ, balik ke hotel bersiap menuju Jabal Nur. Di hotel ia menemukan sejumlah jamaah yang sudah mengenakan pakaian ihram, namun belum juga berangkat ke Masjidil Haram. "Ada salah satu anggota rombongan saya yang masih mengenakan ihram mengatakan kalau masjid ditutup. Tepatnya setelah shalat Ashar," kata dia. Penutupan itu hanya berselang dua jam dari pungkasnya rangkaian umrah yang ia laksanakan sebelumnya.

Royhan belum menghitung secara pasti, yang jelas, tak sedikit anggota rombongannya yang belum sempat melakukan umrah saat Masjidil Haram ditutup. Penutupan itu seturut perluasan penundaan umrah yang kini meliputi juga warga Saudi.

Pada Jumat (6/3), menurut Royhan, sebagian area Masjidil Haram sudah bisa dimasuki. Kendati demikian, wilayah di sekitar Ka'bah tetap masih terlarang. Demikian juga wilayah pelaksanaan sa'i. Artinya, rangkaian umrah belum bisa dilakukan.

Tak ada keramaian di sekeliling Ka'bah yang selalu terjadi saat shalat Jumat dilaksanakan di sana. Hanya pekerja-pekerja kebersihan dengan seragam hijau-hijau mereka yang tampak lalu-lalang. Menyapu dan mengepel lantai. Melap-lap tembok, dan pilar-pilar Masjidil Haram.

"Kami cemas dan bingung, Mas. Kalau saya pribadi, ya sedih. Karena target ibadah yang sempurna justru terhambat. Akhirnya, sampai saat ini kami pasrah," kata dia.

Kecemasan itu juga dipicu mepetnya waktu. Sejak Jumat (6/3), terhitung mereka dijadwalkan harus kembali ke Tanah Air dua hari lagi. Jika sampai saat itu Masjidil Haram masih terus ditutup, banyak yang akan kehilangan kesempatan berumrah. 

"Ini rencana balik hari nunggu lusa. Jadi masih menunggu keputusan karena banyaknya jamaah yang belum menuntaskan umrah," kata Royhan.

Saat ini, doa terus mereka panjatkan agar kesempatan langka di Tanah Suci, tak lepas begitu saja. Agar bisa kembali ke Tanah Air dengan tenang karena tujuan mulia mereka ke Tanah Suci terpenuhi seluruhnya. 

Sementara itu, Sukarjo, seorang mukimin dari Indonesia menuturkan, jamaah-jamaah dari Madinah sudah ditolak masuk Makkah sejak Kamis (5/3). Bus-bus yang mengangkut mereka, dikembalikan lagi ke Madinah beserta isinya.

Ketatnya pengawasan dan pelarangan di Tanah Suci juga membuat para mukimin yang biasanya mendampingi para jamaah sementara tak bekerja. "Sudah pada balik ke rumah, takut diusir-usirin," kata dia kepada Republika.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini