Jumat 03 Apr 2020 21:48 WIB

BPKH Bangun Ruang Isolasi RS Haji Jakarta, Baznas Bantu APD

APD menjadi alat perang yang sangat dibutuhkan oleh para dokter dan tenaga medis.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Fakhruddin
Ilustrasi Rumah Sakit Corona
Foto: MgIT03
Ilustrasi Rumah Sakit Corona

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Irfan Syauqi Beik menuturkan, sinergi beberapa institusi melalui Gugus Tugas Pencegahan Penyebaran Covid-19 Kementerian Agama (Kemenag) bertujuan untuk membantu penanganan wabah Covid-19. Gugus tugas yang diinisiasi oleh Kemenag ini melibatkan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), dan Badan Wakaf Indonesia (BWI).

"Beberapa hal yang telah dilakukan, pertama kita mendorong penguatan dua lembaga di bawah Kemenag yaitu RS Haji Jakarta dan RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai rumah sakit yang didorong untuk ikut membantu dalam proses pencegahan Covid-19 ini," tutur dia kepada Republika.co.id, Jumat (3/4).

Irfan menambahkan, di RS Haji Jakarta pun tengah dibangun ruang isolasi dengan menggunakan dana kemaslahatan BPKH yang dilaksanakan oleh Kemenag. Baznas, lanjut dia, berkontribusi dua hal. Pertama, menyalurkan dana zakat, infak dan sedekah (ZIS) untuk mendukung kedua RS tersebut. Baznas memberi bantuan dana sebesar Rp 300 juta untuk RS Haji Jakarta dan Rp 200 juta ke RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

"Hal kedua, kami atas inisiatif Kemenag membantu BPKH menyalurkan dana kemaslahatan BPKH sebesar Rp 5 miliar untuk pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga medis di kedua rumah sakit itu," kata dia.

Sebab, Irfan menjelaskan, APD menjadi alat perang yang saat ini sangat dibutuhkan oleh para dokter maupun tenaga medis. Mereka perlu APD yang banyak untuk bisa melayani maupun mengobati pasien yang dalam perawatan atau yang positif terjangkit wabah virus Covid-19.

"Sementara ini, kolaborasi semua institusi ini lebih kepada penanganan dari sisi kesehatan, dan penyediaan APD dan ruang isolasi. Jadi baru sebatas itu. Ke depan boleh jadi akan masuk ke hal-hal lain," jelasnya.

Di tengah situasi pandemi Covid-19 ini, Irfan mengakui kebutuhan terhadap APD dari berbagai negara memang tinggi. Sehingga cukup sulit untuk mendapatkan APD berkualitas premium karena barang ini sekarang terbilang langka. "Kita menyadari ada kelangkaan, tetapi kita berusaha keras memperolehnya dari berbagai produsen," terangnya.

Meski ada kelangkaan, lanjut Irfan, kini ada banyak produsen di dalam negeri yang memproduksi pakaian hazmat dengan standard medis. Dalam pengadaan ini, Baznas memberdayakan para ahli kesehatan di RS yang dikelolanya untuk memastikan pakaian hazmat itu telah sesuai dengan standard medis.

"Kita mencari yang standard medisnya sudah terpenuhi karena ini penting. Kalau tidak memenuhi standard medis percuma juga. Nah teman-teman dari RS Baznas diberi tugas untuk memastikan bahwa APD ini sesuai dengan standard medis," tutur dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement