Berkunjung di Kota Biru Cantik Rajahstan India

Selasa , 11 Aug 2020, 04:31 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Rajahstan
Rajahstan

Jodhpur menyandang dua gelar istimewa sekaligus, Kota Biru dan Kota Mentari. Asal-usul dua gelar tersebut pula saling berkaitan. Jodhpur adalah kota yang disinari matahari sepanjang tahun, dan untuk meredam hawa panas yang menyengat, konon masyarakat kompak untuk mewarnai rumah mereka senada dalam balutan warna biru. 

 

Terkait

Bukan main, saya terbelalak dibuat Jodhpur saat pagi tiba. Kota Biru dan Kota Mentari bukan hanya sekadar legenda. Dari rooftop penginapan, saya terpaku memandangi horizon kota Jodhpur yang benar-benar biru. Langit Jodhpur adalah langit paling cerah yang pernah saya saksikan, sinar mataharinya juga tidak tanggung-tanggung menghangatkan udara Jodhpur. Di ujung pandang mata, terlihat Mehrangarh Fort memanjang kokoh dari kejauhan.

72 Hours In Jodhpur, India — Scratch My Pack Travel

Mehrangarh Fort adalah salah satu benteng paling besar di India. Nikmatilah keindahan Jodhpur dengan banyak berjalan kaki sambil berinteraksi dengan warga sekitar. Jika merasa tersesat, jangan ragu untuk bertanya kepada warga, pasti akan dijawab dengan jelas sambil menunjukan arah ke tempat tujuan.

Seperti benteng-benteng kebanyakan yang terletak di atas bukit, jalan menuju Mehrangarh Fort juga menanjak. Masih terkagum-kagum dengan atmosfer kebiruan Jodhpur, membuat saya dan teman-teman beberapa kali terhenti untuk menyantap pemandangan kota. Turis mancanegara dikenakan biaya 600 Rupee (sekitar Rp 120.000) untuk masuk ke Mehrangarh Fort, lengkap dengan perangkat audio untuk mendengarkan sejarah di tiap-tiap pos benteng. Mehrangarh Fort memiliki tujuh gerbang yang di dalamnya telah disulap dengan apik menjadi museum dan galeri.

Museum Mehrangarh menampilkan peninggalan-peninggalan barang berharga milik para bangsawan pada zamannya, seperti rengga gajah, tandu, peti harta karun, dan lukisan. Kuil Chamunda Mataji adalah tempat ibadah yang terletak di salah satu ujung benteng. Saya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam kuil setelah melihat antrian pengunjung lain yang hendak beribadah. Kuil Chamunda Mataji ramai dikunjungi ribuan orang pada Festival Dussehra atau Hari Durga Puja.

Ternyata, keindahan Mehrangarh membuat saya dan yang lainnya lupa waktu. Lebih dari setengah hari kami habiskan di dalam kompleks benteng. Karena harus mengejar kereta menuju Jaisalmer, kami tidak sempat menjamah tempat wisata Jodhpur selain Mehrangarh.

Walaupun belum puas, Mehrangarh Fort adalah sebuah keelokan yang lebih dari cukup. Menghabiskan waktu di dalamnya membuat saya serasa ditarik kembali pada zaman dahulu, didukung dengan pengunjung maupun penjaga museum yang mengenakan pakaian tradisional India, serta alunan musik dari pengamen tradisional memperkuat suasana historis Mehrangarh Fort. Dan, rona warna biru Jodhpur akan terus menanam rindu dan keinginan untuk selalu kembali dalam memori saya. n

                                         ***

Menyusuri Padang Pasir di Kota Emas

Perlu waktu tujuh jam dengan kereta api dari Jodhpur untuk sampai ke Jaisalmer. Kota Emas ini akan menjadi destinasi terakhir dalam jelajah kilat negara bagian Rajasthan sebelum kembali ke Delhi. Kota ini menghadirkan semburat-semburat keemasan, sesuai dengan julukan yang disandang. Atmosfer Jaisalmer membawa saya seperti tidak sedang berada di India, melainkan suatu tempat nun jauh di Timur Tengah. Hamparan padang pasir di sisi jalan raya merupakan pemandangan yang tidak asing.

Gurun Pasir Thar menjadi atraksi utama yang menarik para turis untuk menjelajahi Jaisalmer. Gurun Thar adalah garis perbatasan alamiah India dan Pakistan. Tidak seperti dua kota sebelumnya yang padat dengan bangunan, Jaisalmer justru lebih 'desa' dibandingkan Jaipur dan Jodhpur. Jumlah sapi-sapi yang berkeliaran dan berlalulalang di jalan jauh lebih banyak. Bangunan-bangunan yang terbilang sedikit itu tetap selaras dalam warna kuning keemasan.

 

Tidak sulit menemukan agen yang menawarkan paket jalan-jalan di gurun. Dengan penampilan fisik kami yang jelas berbeda dari penduduk Jaisalmer, para pencari nafkah itu segera berlomba membujukrayu untuk memilih perusahaan agen mereka. Pilihan kami jatuh pada paket 750 rupee (sekitar Rp 150 ribu), termasuk dengan mobil jip antar jemput dari hostel ke bibir Gurun Thar, lima ekor unta serta pemandu untuk sembilan orang, dan sajian makan malam di gurun. Unta-unta tersebut mengantarkan kami ke tempat bersantai yang tertuju untuk makan malam di Gurun Thar. Merupakan pengalaman sekali seumur hidup mendapati diri leyeh-leyeh  di tengah padang pasir bersama teman-teman dan lima ekor unta, disaksikan matahari terbenam di barat langit.

Selain Gurun Thar, Jaisalmer menyimpan beberapa candi milik agama kuno India, Jainisme, dengan nuansa, tentu saja, keemasan. Jangan lupa untuk turun ke tengah kota, terdapat banyak toko oleh-oleh yang bisa dikantongi dengan harga murah, asal pintar menawar. Kapan lagi bisa dapat tas kulit unta dengan harga Rp 30 ribu kalau bukan di Jaisalmer? n

***

Tips Sepele Namun Penting

1. Letak geografis Rajasthan menyebabkan negara bagian ini terik luar biasa. Perbanyak minum air putih agar tidak dehidrasi. Pastikan air yang Anda minum adalah air mineral botol, agar terjamin kebersihannya.

2. Saat hendak membeli oleh-oleh, pasanglah ekspresi datar alias tidak tertarik amat dengan barang yang Anda inginkan. Jika Anda menunjukkan ekspresi penuh semangat, bisa-bisa harga dinaikan 10 kali lipat! Jangan tidak tegaan dalam menawar harga, trik pura-pura meninggalkan penjual selalu ampuh.

3. Taruh gadget dan tinggalkan sejenak keinginan untuk update status. Beranikan diri untuk menyapa sesama pelancong dari mancanegara. Selalu seru berkenalan dengan orang baru dan mendengarkan cerita pengalaman mereka.

4. Jika ingin mengunjungi lebih banyak tempat, tentukan itinerary yang lebih jelas dan disiplin mengikuti jadwal yang telah ditentukan. Kesalahan saya dalam perjalanan ini ialah tidak memiliki itinerary yang detail, sehingga cenderung tidak bijak dalam menghabiskan waktu di satu tempat.