Masjid Khusnul Khatimah Gaya Mughal di Tengah Perkantoran

Jumat , 11 Sep 2020, 21:45 WIB Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Masjid Khusnul Khatimah Gaya Mughal di Tengah Perkantoran (ilustrasi).
Masjid Khusnul Khatimah Gaya Mughal di Tengah Perkantoran (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Awan berwarna putih bergumul di atas langit Jakarta. Hanya sedikit saja warna biru yang terlihat menghiasi langit pagi yang tampak cerah. Berlatar gedung pencakar langit, tersajilah sebuah atap bangunan berbentuk setengah lingkaran.

 

Terkait

Dari sisi timur, atap berbentuk setengah lingkaran yang tampak itu berjumlah empat. Satu di antaranya memiliki ukuran lebih besar. Letaknya di tengah, dikelilingi oleh atap setengah lingkaran lainnya yang berada di bagian timur, utara, dan selatan. Sedangkan kubah kecil lainnya yang berada di sebelah barat tak tampak karena terhadang oleh kubah besar yang ada di tengah.

Atap berbentuk setengah lingkaran itu adalah kumpulan kubah yang ada di Masjid Khusnul Khatimah. Masjid ini berada di lingkungan kantor Kementerian Hukum dan HAM. Kubah masjid ini berjumlah enam. Kubah-kubah itu terlihat bersih terawat.

Diselimuti dengan warna putih, kubah-kubah itu seperti sebuah anomali dari bangunan jangkung yang ada di sekitar wilayah Kuningan, Jakarta. Bangunan yang melatari masjid umumnya berbentuk persegi serta memilih warna yang beragam. Sementara tampilan masjid ini terlihat sederhana dengan warna putih, namun seakan mampu menjadi magnet bagi lingkungan sekitarnya. 

Berdasarkan informasi di prasasti, masjid ini diresmikan pembangunannya pada Mei 2012. Tanda tangan dalam prasasti yang terbuat dari material marmer itu adalah Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsuddin. Pada prasasti lainnya, tertulis pula informasi pemancangan pembangunan kembali masjid ini pada April 2011. Pemberi bubuhan tanda tangan adalah pendahulu Amir Syamsuddin, yakni Patrialis Akbar.

Pengayaan bentuk

Dari tampilan luar, selintas terlihat pengaruh gaya arsitektur Mughal mewarnai bentuk bangunan Masjid Khusnul Khatimah ini. Arsitektur dengan gaya Mughal umumnya banyak berkembang di wilayah India dan Pakistan. Arsitektur jenis ini berkembang pesat pada zaman kekaisaran Mughal pada abad ke-16 hingga 18 Masehi.

Cerminan gaya Mughal itu dapat terlihat jelas pada fasad masjid, terutama pada bentuk selasar. Seperti halnya bentuk selasar Taj Mahal di India, bagian selasar di Masjid Khusnul Khatimah ini juga mengekspose bentuk selasar layaknya benteng. Begitu pula ornamen geometrisnya yang dibuat secara detail.

Namun, bentuk selasar di masjid ini memperlihatkan adanya pengayaan bentuk. Di antaranya dengan menyorongkan bagian selasar ini lebih maju dan dikemas dalam bentuk kotak persegi. Sementara bentuk melengkung dengan bagian tengah yang meruncing pada bagian selasar ini tetap menegaskan pengaruh arsitektur Mughal.  

Hal yang sama juga dapat terlihat pada bagian kubah masjid. Walau tak lagi terlihat duplikasi utuh dengan bentuk kubah arsitektur Mughal, namun pengaruh itu masih tetap tampak.

Seperti ditulis Achmad Fanani dalam buku Arsitektur Masjid, biasanya kubah pada masjid bergaya Mughal ini memiliki bentuk bawang. Bentuk itu tecermin pada bagian badan kubah dibuat menggelembung. Sementara bagian lingkaran ujung kubah yang lurus, sedikit ditekuk melentur. Lalu pada bagian kepala kubahnya sendiri dimahkotai sebentuk kelopak.

Sedangkan yang membuat agak sedikit berbeda kubah Masjid Khusnul Khatimah ini terletak pada penggelembungan badan kubah. Di masjid ini, badan kubah tak terlihat menggelembung. Lantas pada bentuk lainnya, sebagian besar banyak mengadopsi gaya Mughal.

Melangkah lebih jauh ke dalam, terlihat pula adanya pengaruh arsitektur dari dinasti Turki Usmani atau Ottoman. Dalam hal ini terlihat dari pencomotan motif kelopak bunga tulip. Motif bunga tulip sudah sejak lama banyak dipakai dalam seni ornamen Persia dan Turki. Bahkan, bunga tulip ini diklaim pula di Iran dan Turki sebagai bunga nasional kedua negara tersebut.

Motif bunga tulip ini terlihat jelas pada bagian pegangan tangga antara lantai dasar dan lantai mezanine. Bentuk kelopak bunga tulip tersebut dibuat dari material sejenis kuningan dengan warna kuning emas.

Namun demikian, percampuran pengaruh arsitektur lokal juga tetap tecermin saat berada di bagian interior masjid ini. Ini terlihat dengan tampilan semacam bentuk gebyok yang diletakkan pada bagian mihrab. Ya, pada bagian mihrab ini dihadirkan ukiran kayu khas Jepara. Ukiran yang dihadirkan di sini mengambil motif flora dan juga penggalan surah dari Alquran.

Pengaruh arsitektur lokal lainnya juga dapat terlihat pada bagian jendela yang ada di lantai mezanine masjid ini. Jendela masjid ini masih tampil dengan konsep Mughal. Namun, sebagai penutup lubang jendela tersebut dihadirkan daun jendela yang terbuat dari material kayu, lengkap dengan ukiran yang mirip seperti halnya di bagian mihrab masjid.

Sementara itu, di bagian dalam kubah, dihiasi pula oleh berbagai ornamen kaligrafi dan motif flora. Pada bagian ini menggantung pula sebuah lampu gantung klasik. Lampu ini memiliki lima tingkat dengan bagian ujung tungkai terdapat tempat untuk meletakkan lampu. Hadirnya lampu gantung ini semakin melengkapi adanya elaborasi yang apik antara pengaruh gaya arsitektur Mughal dan arsitektur lokal. Dan pada akhirnya, semua elaborasi gaya itu memberikan estetika yang khas ketika menyambangi Masjid Khusnul Khatimah ini. 

 

*Artikel ini telah dimuat di Harian Republika, Minggu, 29 Desember 2013

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini