Menikmati Keindahan dan Sejuknya Taif (3)

Senin , 19 Oct 2020, 06:08 WIB Redaktur : Muhammad Hafil
Menikmati Keindahan dan Sejuknya Taif. Foto: Masjid Abdullah bin Abbas di Taif
Menikmati Keindahan dan Sejuknya Taif. Foto: Masjid Abdullah bin Abbas di Taif

REPUBLIKA.CO.ID, Siwi Tri Puji B / Wartawan Republika

 

Terkait

Kendati tak pernah bersalju, namun selama musim dingin suhu di Taif lumayan ekstrem. Pada pertengahan bulan ini yang merupakan puncak musim dingin suhu bisa mencapai 7 derajat Celcius pada siang hari dan lebih rendah lagi di malam hari, hingga mencapai 2-3 derajat Celcius.

Baca Juga

Meski mengalami musim panas yang cukup panjang selama empat bulan, matahari tak pernah membakar kulit seperti halnya di belahan lain di jazirah Arab. Suhu tertinggi wilayah ini hanya 27 derajat Celcius, dan turun hingga 13 derajat Celcius di malam hari.

Itu sebabnya, Taif menjadi tempat peristirahatan para raja dan kaum berada Arab Saudi selama berabad-abad. Banyak bangunan tua yang tetap terjaga yang menjadi bukti sejarah. Bangunan-bangunan itu menjadi saksi peradaban yang terus berkembang, karena masing-masing mencirikan eranya.

Misalnya saja Qasr al-Sulaiman atau Istana Ibnu Sulaiman yang tetap terpelihara hingga saat ini. Bangunan milik Menteri Keuangan pertama Arab Saudi yang didirikan tahun 1363 ini merupakan paduan gaya Arab, Turki, dan Eropa. Kolam kecil dengan air mancur, ciri arsitektur era Usmaniyah, berada di bagian depan istana. Saat itu, Dinasti Usmaniyah memang tengah berjaya di Turki dan banyak arsitek andalnya yang ”diekspor” ke berbagai penjuru dunia.

Bangunan lainnya adalah Istana Al-Ka’ki. Istana milik keluarga Ka’ki yang merupakan pengusaha sukses Makkah abad pertengahan ini pernah difungsikan sebagai sekolah dasar. Namun oleh ahli waris dan pemerintah setempat, bangunan itu kini dijadikan salah satu objek cagar budaya.

Istana ini didirikan oleh arsitek kondang di zamannya, Mohammad al-Quraishi selama dua tahun sejak 1936. Bangunan ini seluruhnya menggunakan material lokal. Bebatuan dari perbukitan Taif menjadi inti bangunannya dan konstruksi atap menggunakan kayu akasia yang masih banyak dijumpai di Taif hingga saat ini. Ornamen dalamnya menggunakan gymsum yang dicetak dengan cara tradisional.

Sang arsitek seolah ingin mendobrak tradisi arsitektur Eropa yang saat itu mulai menjajah Arab dan latah diikuti oleh banyak orang. Itu sebabnya, Al-Quraishi meniadakan pilar-pilah besar yang mencirikan arsitektur kebanyakan di abad pertengahan. Prinsipnya sangat terkenal saat itu, yaitu ”Dengan nama Dia yang membangun surga tanpa pilar”.

Selain dua istana itu, puluhan bangunan tua masih terawat dan berdiri sejajar dengan resort dan rumah peristirahatan modern lain yang banyak berdiri di kota ini. Bagi saya, Taif menjadi oase, tak semata karena alamnya yang indah. Tradisi lokalnya dan bangunan-bangunan bersejarah yang tetap terjaga hingga saat ini di Taif – hal yang tidak dijumpai di Makkah, kota peradaban tua yang semestinya bercerita banyak hal tentang waktu yang telah lewat – adalah oase tersendiri di mata saya. siwi tri puji

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini