Ahad 04 Jul 2021 12:54 WIB

Kisah Batavia Sebagai Kota Budak

Pada masa kolonial perbudakan di Batavia adalah hal umum terlihat

Kastil of Batavia. Ini sebutant kota Batavia (Jakarta sekarang) di masa lalu. Tampak tembok kota yang kini telah dirobohkan dan suasana asri kawasan yan berada di luar tembok kota tersebut.
Foto:

Warga Belanda Batavia adalah kelompok kecil, diliputi oleh populasi Cina, India, Indonesia, dan budak yang lebih besar.

Untuk mendominasi kelompok-kelompok ini, orang-orang Batavia Belanda menghadapi tuntutan yang kontradiktif: untuk tampil sebagai kelompok Belanda yang kohesif dan secara kultural. Dan secara teori ini bermaksud menghindari pamer status yang mencolok, namun pada sisi lain tetap ingin memaksakan dominasi mereka atas kelompok lain.

Ketegangan ini dalam praktiknya menyebabkan tampilan status yang mencolok melalui kostum, perilaku, dan akumulasi rombongan besar budak pribadi. Tampilan ini termasuk adopsi simbol lokal, seperti payung, di samping praktik yang lebih akrab bagi penduduk Eropa, seperti pemakaian tekstil halus dan perhiasan dan perlengkapan gerbong.

Berbagai gubernur jenderal Hindia Belanda memperkenalkan semacam kode kesopanan atau yang dikenal sebagai kode sumptuary selama periode perusahaan (1619-1795). Ini tujuannya sebagai upaya untuk mengatur perilaku ini.

Untuk sebagian besar, kode-kode ini hanya mengizinkan masyarakat Batavia Belanda yang paling atas, gubernur jenderal dan keluarganya, dan kemudian beberapa perwira tinggi, untuk menunjukkan statusnya. Penduduk Belanda yang tersisa ditolak tanda-tanda utama prestise. Dan pada dasarnya aturan ini untuk meratakan hierarki dalam penduduk Belanda, dan secara teori mengarah ke kohesi sosial yang lebih.

Kebutuhan akan undang-undang ini, dan pengulangan serta penerbitannya kembali, menunjukkan bahwa orang Batavia Belanda terus-menerus melanggar peraturan ini. Mereka tetap bertindak di atas status mereka dan di luar norma-norma sosial Belanda tersebut.

Aelbert Cuyp,  The Commander of the Homeward-Bound Fleet, ca. 1640–60, Rijksmuseum, Amsterdam

Keterangan foto: Lukisan komandan Armada Homeward-Bound, pada 1640–60. Lihat mereka berjalan bergandengan dengan isteri Eurosia dengan dipayungi budak dari kalangan pribumi.

Selain dua lukisan itu ada bukti lukisan lain mengenai suasana maraknya budak di Batavia. Lukisan di bawah ini adalah lukisan yang bertajuk Aelbert Cuyp's The Commander of the Homeward-Bound Fleet, dilukis antara tahun 1640 dan 1660..

Pada lukisan itu menunjukkan seorang komandan Belanda, mungkin Jakob Martensen, dan istrinya, berdiri di atas bukit dengan pemandangan pelabuhan Batavia dengan latar belakang benteng di tengah.

Tampak gaun sederhana dari pasangan ini lebih sesuai dengan harapan orang Belanda tentang kesopanan daripada pedagang Beeckman yang sombong dan bahkan di sini pasangan itu sudah melanggar aturan tahun 1647., yakni tetap saja melarang payung yang dipegang oleh pelayan (budak). 

Penampakan payung dalam potret yang ditugaskan ini berfungsi sebagai penanda keunggulan Batavia. Terlepas dari apakah Martensen dan istrinya benar-benar berjalan di sepanjang kanal Batavia dengan seorang pelayan di belakangnya, tampaknya mereka ingin digambarkan melakukan hal itu untuk secara lahiriah menegaskan dominasi mereka dengan masyarakat pribumi.

Jacob Coeman,  The Batavian Senior Merchant Pieter Cnoll, His E, 1665, Rijksmuseum, Amsterdam

Keterangan foto: Lukisan Jacob Coeman, Pedagang Senior Batavia Pieter Cnoll, Istri dan Putri Eurasianya dan Budak Domestik, pada tahun 1665.

Contoh ketiga dari lukisan yang menentang kesopanan sosial tradisional Belanda yang menggambarkan pedagang senior Pieter Cnoll juga memag terlihat. Dalam lukisan yang dibuat pada tahun 1665 jelas menegaskan gambaran potret dia, istrinya, dan dua putri mereka yang disertai  dua budaknya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement