Rabu 11 Aug 2021 19:43 WIB

KH Abdurrahman Syamsuri Sesepuh Pesantren Muhammadiyah (I)

Keteguhan hati dan sikap Kiai Abdurrahman semakin kokoh sebagai pengasuh pesantren.

Rep: Muhyiddin/ Red: Agung Sasongko
Pesantren (Ilustrasi)
Foto:

Karena itu, yang diajarkan di sana meliputi banyak hal, semisal ilmu tafsir Alquran, hadis, dan tata bahasa Arab. Sebagai langkah awal, dirinya meminjam sebuah lahan luas milik Pak Hadir. Di atas tanah itu, tumbuh pepohonan asam yang cukup rindang. Melihat situasi itu, ia pun terinspirasi untuk menamakan lembaga yang akan didirikannya sebagai Pondok Pesantren Karangasem.

Pada 18 Oktober 1948, dibangunlah Asrama Santri al-Hijrah. Dalam prosesnya, Kiai Abdurrahman mendapatkan dukungan penuh masyarakat Paciran. Mereka bergotong-royong untuk membuat gota'an, sebuah bangunan kayu berbentuk persegi panjang yang kemudian dibaut kotak-kotak untuk memisahkan kamar-kamar santri. Bangunan tersebut menjadi tonggak awal Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah, Paciran.

Pondok Pesantren Karangasem semakin berkembang. Keteguhan hati dan sikap Kiai Abdurrahman pun semakin kokoh sebagai pengasuh pondok pesantren. Setiap pagi hari sebelum shalat subuh, ia berkeliling pondok untuk melihat langsung keadaan para santrinya. Usai shalat subuh, para santri mengaji kitab tafsir Jalalain di hadapan sang kiai. Ulama ini pun menyimak dengan saksama bagaimana mereka membaca dan memaknai teks bahasa Arab.

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement