Ahad 27 Feb 2022 20:46 WIB

Konflik Ukraina-Rusia Bagian Sisa Perang Dingin

Konflik Ukraina-Rusia Bagian Sisa Perang Dingin

Rep: Lintar Satria/ Red: Muhammad Hafil
 Konflik Ukraina-Rusia Bagian Sisa Perang Dingin. Foto:  Pengungsi yang melarikan diri dari konflik dari negara tetangga Ukraina tiba di Zahony, Hongaria, Ahad, 27 Februari 2022. Pertempuran jalanan pecah di kota terbesar kedua Ukraina pada Ahad dan pasukan Rusia meningkatkan tekanan pada pelabuhan-pelabuhan strategis di selatan negara itu menyusul gelombang serangan terhadap lapangan terbang dan fasilitas bahan bakar di tempat lain yang tampaknya menandai fase baru invasi Rusia.
Foto: AP/Anna Szilagyi
Konflik Ukraina-Rusia Bagian Sisa Perang Dingin. Foto: Pengungsi yang melarikan diri dari konflik dari negara tetangga Ukraina tiba di Zahony, Hongaria, Ahad, 27 Februari 2022. Pertempuran jalanan pecah di kota terbesar kedua Ukraina pada Ahad dan pasukan Rusia meningkatkan tekanan pada pelabuhan-pelabuhan strategis di selatan negara itu menyusul gelombang serangan terhadap lapangan terbang dan fasilitas bahan bakar di tempat lain yang tampaknya menandai fase baru invasi Rusia.

IHRAM.CO.ID,SLEMAN -- Konflik yang saat ini terjadi di Eropa Timur antara Ukraina dan Rusia bukan konflik baru. Dosen Studi Keamanan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII), Irawan Jati menilai, ini bagian dari sisa-sisa perang dingin yang bertahan.

Ini terus ada meskipun beberapa pihak menyatakan perang dingin sudah lama selesai sejak runtuhnya tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet. Dukungan Rusia ke separatis Ukraina bagian dari konsep the enemy of my enemy is my friend yang diadopsi Rusia.

Baca Juga

Rusia coba memaksimalkan potensi kelompok-kelompok separatis untuk mempertahankan dan memperkuat kedudukan mereka di negara-negara tersebut. Soal indikasi mengarah ke perang dunia ketiga, masih terlalu jauh melihat kondisi yang saat ini terjadi.

Salah satu indikatornya bantuan militer negara-negara NATO seperti Turki, Kanada dan Spanyol lebih bersifat individu alih-alih organisasi. Ini ditambah pernyataan Presiden AS, Joe Biden, yang tidak akan mengirimkan bantuan militer ke Ukraina.

"Ancaman sanksi ekonomi dan embargo untuk mendorong Rusia hentikan perang tidak banyak berpengaruh karena Rusia merupakan wilayah yang cukup sustain, sehingga mereka masih bisa survive menghadapi embargo tersebut," kata Irawan, Ahad (27/2).

Hal itu disampaikan Irawan dalam International Relations In Conversation bertajuk Russia-Ukraine Updates: What Happens Next. Irawan menekankan, kondisi yang terjadi di lapangan saat ini Rusia menjadi pemasok utama gas untuk negara-negara di Eropa.

Sehingga, sanksi tersebut bisa berbalik merugikan negara-negara di Eropa. Irawan menilai, pendekatan diplomasi menjadi salah satu solusi meski cukup bertele-tele. Ini disebabkan legitimasi militer negara-negara sekitar Rusia belum cukup kuat.

"Apa yang saat ini dilakukan Rusia bukan merupakan hal yang baru karena pernah terjadi di 2014 saat Rusia mencoba menganeksasi kembali dan mengklaim Ukraina sebagai bagian sah dari Rusia," ujar Irawan.

Dosen Studi Kawasan Eropa UII, Mohamad Rezky Utama menuturkan, situasi saat ini di Ukraina tidak terlepas dari ekspansi NATO yang mulai melebarkan pengaruh di Eropa Timur. Ekspansi membahayakan Rusia karena berpotensi memindahkan rudal balistik.

Yang mana, awalnya ditempatkan di Rumania ke Ukraina dan berpotensi jadi ancaman terbuka bagi Rusia. Sebelum 2014, Ukraina dan Rusia sangat dekat dan jadi buffer zone Rusia dan Eropa. Setelah revolusi 2014, pemerintah Ukraina berpindah haluan.

Dari sebelumnya dekat dengan Rusia beralih mendekati NATO. Hal ini menyebabkan Belarusia menjadi satu-satunya buffer zone antara Rusia dan negara-negara Eropa. Invasi yang dilakukan Vladimir Putin jadi salah satu cara mengembalikan Ukraina.

Dengan mengganti rezim pemerintah Ukraina melalui dukungan kelompok separatis di Donetsk, Luhan dan Krimea. Hal yang sama pernah dilakukan Rusia dengan mendukung kelompok separatis Georgia setelah mereka mulai memihak kepada AS dan Eropa Barat.

"Faktor penghambat lainnya Uni Eropa dan NATO cukup berhati-hati mengambil langkah hindari perang dunia ketiga karena bisa menyebabkan Eropa jadi teater perang dunia lagi," kata Rezky.

Rezky menilai, penyelesaian konflik melalui PBB belum bisa dilakukan karena Rusia masih memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB. NATO dan EU harus turun tangan dan terlibat dalam perjanjian damai untuk menyelesaikan konflik kedua negara ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement