Selasa 22 Mar 2022 05:28 WIB

Masjid Atia Bangladesh Butuh Pemeliharaan

Masjid ini menjadi salah satu situs arkeologi penting Bangladesh.

Rep: Rossi Handayani/ Red: Agung Sasongko
Masjid Atia di Bangladesh yang berusia leih dari 400 tahun berada di ambang kehancuran.
Foto: The Daily Star
Masjid Atia di Bangladesh yang berusia leih dari 400 tahun berada di ambang kehancuran.

IHRAM.CO.ID,  DHAKA -- Masjid Atia yang berusia lebih dari empat ratus tahun di Bangladesh, telah lama berada dalam kondisi bobrok karena kurangnya perawatan dan pemeliharaan. Masjid ini menjadi salah satu situs arkeologi penting negara.

Dilansir dari laman the Daily Star pada Senin (21/3/2022), Dibangun pada awal abad ke-17, masjid berusia 413 tahun itu telah kehilangan banyak kemegahannya. Selain itu, plakat terakota hias di dinding masjid kuno selebar sembilan kaki sudah usang. Kemudian pada bagian tembok masjid yang tebal juga mengalami perubahan warna dan sebagian batanya rusak.

 

Imam masjid, Mawlana Mozammel Haque mengatakan, kurangnya perawatan dan pekerjaan renovasi telah mengakibatkan banyak plak terakota terkikis di masjid, sementara dekorasi unik masjid berjatuhan. Namun, sejumlah pengunjung, baik warga lokal maupun luar, datang berkunjung ke masjid setiap hari.

 

Menurut pejabat Departemen Arkeologi dan sejarawan lokal, Zamindar dari Atia, Syed Khan Pannee, telah membangun masjid di tepi sungai Louhajang pada 1609. Ia menerima Atia Paragana dari Kaisar Mughal Jahangir sebagai hadiah pada awal abad ke-17.

 

Masjid ini terletak di sebelah kuil Hazrat Shahan Shah, yang datang ke Atia dari Kashmir pada 913 Hijriah. Dia bersama dengan 49 pengikutnya datang untuk mendakwahkan Islam di wilayah tersebut. Makam mereka berada di dekat masjid.

 

Sementara masjid tersebut rusak parah dalam gempa dahsyat pada 1800. Kemudian, seorang pedagang wanita dari Delhi, Rowshan Khatoon Chowdhurani memulihkan masjid yang rusak pada 1837. Lalu Zamindar Delduar Abu Ahmed Ghuznavi Khan bekerja sama dengan Wazed Ali Khan Pannee dan Zamindar lainnya memperbaikinya lagi pada 1909.

 

Kemudian Departemen Arkeologi mengambil alih tanggung jawab masjid bersejarah pada 1978. Selanjutnya mereka memasang papan pengumuman di depan situs kuno yang mengatakan itu adalah milik pemerintah, dan tindakan hukum akan diambil jika ada yang merusak masjid. Namun, tidak ada inisiatif yang diambil untuk memulihkan masjid atau melindungi strukturnya.

 

Sementara seorang penduduk desa Atia, Mohammad Zahid mengatakan, penduduk desa bersama dengan pemerintah setempat telah mencoba mengambil langkah-langkah untuk melindungi masjid bersejarah pada beberapa kesempatan. Akan tetapi Departemen Arkeologi mengatakan kepada mereka untuk tidak melakukannya.

 

Penjaga masjid Syed Monirul Haque mengatakan, masjid yang sudah usang itu sebagian diperbaiki pada 2000 dan 2009. Penduduk setempat, Shakil Ahmed mengatakan, masjid yang indah itu sekarang berada di ambang kehancuran dan mereka mendesak pihak berwenang terkait untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelamatkan struktur tersebut.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement