Kasus Nenek Mudrikah Dikunci Dikamar Saat Berhaji Jangan Sampai Terulang

Sabtu , 11 Jun 2022, 14:15 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Subarkah
Jamaah calon haji saat hendak melaksanakan ibadah Sholat Jumat di Masjid Nabawi, Jumat (10/6/2022).
Jamaah calon haji saat hendak melaksanakan ibadah Sholat Jumat di Masjid Nabawi, Jumat (10/6/2022).

IHRAM.CO.ID, MADINAH --Kasus Nenek Mudrikah (65) dikunci teman-teman sekamarnya jangan sampai terulang lagi. Diketahui, nenek Mudirikah ditinggal sendiri di dalam kamar oleh teman-temannya karena Nenek Mudrikan dinilai merepotkan.

 

Terkait

“Informasinya dari dokter kloter bahwa Nenek Mudrikah ini sering ditinggal karena memiliki keterbatasan berjalan, beliau memakai kursi roda akibat penyakit stroke yang telah dideritanya dalam lima tahun terakhir,” kata dokter Susi Wirawati sebagai salah satu tim visitasi sektor di KKHI Madinah, saat ditemui Republika, Sabtu (11/6). 

Susi menyayangkan, Nenek Mudrikah berangkat ke Tanah Suci tanpa pendamping. Seharusnya, melihat kondisinya yang rentan, Nenek Mudrikah harus memiliki pendamping, baik dari keluarga, ataupun teman-teman sesama jamaahnya.

Belajar dari kasus ini, Susi berharap adanya “boddy system” yaitu tumbuhnya partisipasi dan kerjasama yang baik dari semua perangkat petugas kelompok terbang (kloter), dan dukungan moril dari jamaah satu dengan jamaah lainnya untuk saling peduli selama menjalankan prosesi ibadah haji. Sehingga tidak ada kejadian teman sekamar sering ditinggalkan.

“Petugas kloter juga diharapkan dapat bekerjasama mengatur penempatan kamar jamaah, terutama jamaah lansia dan yang memiliki keterbatasan fisik atau mereka yang termasuk dalam golongan risiko tinggi (risti),” kata Susi.

Susi mengatakan, seperti yang terjadi pada kasus Nenek Mudrikah ini, apabila didapatkan jamaah lansia yang memiliki keterbatasan dan tanpa pendamping, sebaiknya ditempatkan bersama dengan jamaah yang lebih muda usianya. Agar jamaah lansia yang memiliki riwayat seperti Nenek Mudrikah ini dapat dibantu teman sekamarnya.

“Sekiranya mereka yang risti seperti Nenek Mudrikah ini digabungkan dalam satu kamar dengan jamaah yang memiliki rasa empati untuk mau membantu segala aktivitas dan kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan oleh jamaah lansia tersebut,” kata Susi. 

Susi menyarankan, jika seandainya tidak ada jamaah yang bersedia menyertai dan membantu, maka diharapkan penempatan kamar jamaah lansia tersebut dapat ditempatkan bersama dengan petugas kloter. Tujuannya, agar kondisi jamaah lansia seperti Nenek Mudrikah ini dapat terpantau dengan baik dan jamaah lansia ini tidak merasa sendirian yang membuat depresi.

Selain itu, kata Susi, hal yang paling penting dalam kasus ini adalah pendekatan psikologis yaitu menggunakan komunikasi persuasif. Dalam kesehariannya, jamaah lansia lebih merasa nyaman dan tenang apabila mereka sering diajak berbicara dari hati ke hati.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini