Kamis 15 Dec 2022 04:46 WIB

Pentingnya Pemaknaan Esensi dalam Ibadah Umrah

Jamaah diharapkan memahami pemaknaan akan nilai umrah untuk hidup lebih baik.

Prof Kana Sutrisna Suryadilaga bersama jamaah program umrah gratis yang digagas Wali Kota Bandarlampung, Eva Dwiyana yang bekerja sama dengan Tursina Travel..
Foto: Dok Prof Kana Sutrisna Suryadilaga
Prof Kana Sutrisna Suryadilaga bersama jamaah program umrah gratis yang digagas Wali Kota Bandarlampung, Eva Dwiyana yang bekerja sama dengan Tursina Travel..

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Pemaknaan esensi ibadah umrah perlu diberikan kepada para jamaah. Harapannya, agar para jamaah tak hanya siap secara spiritual tetapi juga memahami sisi esensinya.

Amirul Umrah Tursina Travel, Prof Dr H M Kana Sutrisna Suryadilaga MM, M.Ag, M.Psi, mengungkap melalui pemaknaan esensi ini diharapkan ketika jamaah pulang ke Tanah Air membawa oleh-oleh berupa pemahaman pemaknaan akan nilai umrah untuk hidup lebih baik dan bermakna.Harapan ini yang dikedepankan Tursina Travel saat mendampingi para tamu Allah menjalani ibadah umrah.

Baca Juga

"Pemaknaan esensi ini diberikan kepada jamaah saat berangkat ketika berada di pesawat. Saat tiba di Madinah, seperti Masjid Nabawi sebanyak dua kali, selanjutnya di tempat-tempat bersejarah seperti Uhud dan Masjid Quba. Kemudian di Makkah dua kali, dan di tempat bersejarah seperti Jaba Tsur, Jabal Rahmah, dan Arafah. Setelah prosesi umrah selesai, saya berikan pemaknaan dan di pesawat saat kepulangan. Jadi full pemaknaan,"papar Motivator spiritual ini saat berbincang dengan Republika.co.id, Rabu (14/12/2022)

photo
Jamaah Tursina Travel mengikuti pemaknaan esensi ibadah umrah di Masjid Nabawi, Madina, Prosesi pemaknaan esensi dipimpin Prof Kana Sutrisna Suryadilaga. Melalui pemaknaan esensi ini diharapkan memberikan pemahaman kepada para jamaah akan nilai umrah untuk hidup yang lebih baik dan bermakna. - (Dok Prof Kana Sutrisna Suryadilaga)

Sebagai contoh, Prof Kana menjelaskan, seperti saat mengenakan kain ihram. Sejatinya, kain ihram ini dapat dimaknai dengan membayangkan mengenakannya seumur hidup. "Saat mengenakan kain ihram ada aturan yang harus dipatuhi. Misalnya, menjaga lisan dan canda. Larangan itu bisa kita jaga. Namun ketika dilepas, kita itu seperti kembali ke kebiasaan awal. Harusnya, esensi mengenakan kain ihram itu secara maknawi adalah Anda harus betul-betul komitmen,"kata dia.

 

Prof Kana pun mengutip surat Al-Araf 172.

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ  اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ172. 

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Esensi selanjutnya, ada pada tahapan tawaf (bergerak). Prinsipnya, kata Prof Kana, dalam tawaf itu Anda harus bergerak mendekat kepada Allah SWT. "Karena tidak bisa secara syariat, Anda tawaf tapi tidak kelihatan Kabah-nya. Sama halnya dengan sholat, tidak boleh terputus tuh, harus kelihatan yang bagian depan. Tawaf juga begitu,"kata dia. 

photo
Tursina Travel memberangkatkan 500 jamaah dari program umrah gratis yang diinisiasi Wali Kota Bandarlampung, Eva Dwiyana. Jamaah umrah yang diberangkatkan berasal dari beragam kalangan dari ASN hingga tuna netra. - (Dok Prof Kana Sutrisna Suryadilaga)

Selama tawaf, kata Prof Kana, jamaah bergerak anticlock wise (berlawanan dengan arah jarum jam) dan similarity of universe (satu kesamaan gerak) yakni kesamaan gerak dengan manusia, alam semesta, dan para malaikat.Dalam Alquran, disebutkan langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah SWT. 

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا

Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS Al-Isra': 44).

"Karenanya ketika tawaf tidak boleh menyakiti, menjaga akhlak, dan penuh dengan kasih sayang," kata dia.

photo
Prof Kana Sutrisna Suryadilaga saat memberikan pemaknaan esensi ibadah umrah di hotel tempat menginap para jamaah. - (Dok Prof Kana Sutrisna Suryadilaga)

Esensi berikutnya saat sai (berlari). Pada sai, jamaah akan bergerak secara maksimal. Maknanya, saat Sai jamaah kerap memaksimalkan iktikar namun lupa tawakal. "Makanya, Siti Hajar ketika lari-lari itu yang dicari adalah air. Air itu materi, ia (Siti Hajar) diawal tidak tawakal. Akhirnya setelah lelah mulailah muncul awarness (kesadaran),"kata dia. 

Menurut Prof Kana, Siti hajar pada akhirnya meyakini bahwa Allah SWT akan memberikan solusi atas masalah yang menimpanya. "Kita ikhtiar pontang-panting siang-malam andalkan segala kemampuan tapi lupa sama Allah yang memberikan kemampuan. Saat capek, nah orang yang capek ini ada yang sadar atau enggak apakah sudah kita bertawakal kepada Allah. Karena kita ikhtiar, hasil hanyalah milik Allah. Jadi kita berserah diri kepada Allah. Akhirnya air zamzam muncul tak jauh dari Nabi Ismail,"paparnya. 

Esensi terakhir, adalah tahalul (bercukur). Apa maknanya, rambut adalah mahkota, maka Anda harus dicukur karena banyak pikiran yang membuat Anda terdorong menyakiti orang dan keburukan lainnya ."Karenanya saat digunting, hilanglah pikiran kotor sehingga Anda menjadi pribadi yang baru,"kata dia.

Gratis

Pada 4 Desember-12 Desember 2022 lalu, Prof Kana membimbing 500 jamaah yang mengikuti program umrah gratis yang diinisiasi Wali Kota Bandarlampung, Eva Dwiyana SE melalui kerja sama dengan Tursina Travel. Nantinya akan diberangkatkan lagi 500 jamaah dalam waktu dekat.

photo
Prof Kana Sutrisna Suryadilaga bersama pemilik Tursina Travel, M Farid Al Jawie. - (Dok Prof Kana Sutrisna Suryadilaga)

"Program ini sedianya berjalan pada 2019, karena pandemi covid-19, baru bisa dilaksanakan sekarang,"paparnya. 

Prof Kana mengungkap, jamaah yang diberangkatkan ini berasal dari berbagai kalangan, seperti tukang sapu jalanan, tukang pijat, marbot masjid, DKM masjid, tentara, polisi, satpol PP, guru berprestasi, para guru, bahkan tuna netra. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement