REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr KH Ali Mustafa Yakub membagi pengalamannya ketika membantu para jamaah haji asal Indonesia yang tersasar saat melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.
Semasa kuliah di Universitas Muhammad Ibn Saud di Riyadh, Arab Saudi, sejak 1976 hingga 1985, Ali Yakub menuturkan cerita-cerita tentang jamaah haji yang tersasar, yang sering ia temui ketika pelaksanaan ibadah haji.
Kala itu, Ali yang masih menjadi seorang mahasiswa, mengatakan para mahasiswa Indonesia di Arab Saudi, memiliki kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji setiap tahun, lantaran kegiatan belajar diliburkan selama musim haji.
Para mahasiswa yang berkuliah di Arab Saudi, lanjut Ali, lebih memilih membantu para jamaah haji asal Indonesia yang mungkin sedang dalam kesulitan, daripada hanya berdiam diri menghabiskan masa liburan haji di asrama.
Menurut ulama asal Pekalongan, Jawa Tengah ini, salah satu kejadian yang paling sering ia temui menimpa jamaah haji asal Indonesia, yaitu tersasar atau terpisah dari rombongannya.
Ali menerangkan, kala itu ia sempat bertemu jamaah haji asal Jakarta, yang kebetulan tersasar dan tidak tahu arah pulang menuju pemondokan. Kejadian lucu terjadi saat Ali meminta kartu identitas dari jamaah haji tersebut.
Dengan logat Betawi yang kental, jamaah haji itu mengaku sengaja menaruh kartu identitasnya di kantung baju agar tidak hilang, tapi malah diriya sendiri yang justru hilang dari rombongan.
"Kartu pengenal emang ane kantongin biar kagak ilang, eh malah ane yang ilang," kata Ali Yakub menirukan pangakuan polos jamaah haji Betawi dengan logatnya yang khas.
Ada juga cerita tentang jamaah haji, yang ia temui ketika keluar dari Masjidil Haram. Ali menjelaskan saat ia temui, jamaah yang sedang memakai sarung tersebut, keluar dari Masjidil Haram dengan dipegangi petugas keamaan di sana.
Ali bersama temannya sesama mahasiswa Indonesia, akhirnya menemui jamaah haji tersebut untuk membantunya kembali ke pemondokan.
Kamudian, Ali mendatangi jamaah tersebut yang ternyata adalah jamaah haji asal Jawa Timur. Menurut Ali, jamaah tersebut mengaku bingung melihat semua lampu yang ada, karena tampak tidak berbeda satu sama lain.
Karena jamaah tersebut terlihat begitu lelah karena sudah tersasar lama, Ali dan temannya menawarkan orang tersebut untuk makan terlebih dahulu, sebelum diantarkan ke pemondokan.
Alangkah terkejutnya Ali ketika jamaah yang tersasar tersebut, menolak untuk diberikan makanan oleh Ali dan teman-temannya. Rasa terkejut itu seketika berubah menjadi tawa, ketika orang tersebut menjelaskan alasannya menolak tawaran makan dari Ali.
Dengan bahasa Jawa yang kental, jamaah haji itu mengaku sudah cukup kenyang, lantaran sudah bisa bertemu orang Indonesia yang akan membantunya. "Saya tak perlu makan, bertemu bapak aja, saya sudah sangat kenyang," tutur Ali sambil tertawa.




